Konsep Marketing 6.0 & Strategi Digital Marketing Perusahaan

konsep marketing 6.0 dan strategi digital marketing perusahaan
I

Dunia pemasaran terus berevolusi seiring dengan perubahan perilaku konsumen dan kemajuan teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi digital membuat konsep digital marketing terus berevolusi, mulai dari Marketing 1.0 hingga Marketing 6.0.

Perkembangan konsep marketing atau konsep digital marketing menjadi ranah yang wajib diikuti perkembangannya oleh para praktisi pemasaran digital, termasuk para leader, manager, ataupun C-Level.

Oleh karena itu, perjalanan era Marketing 1.0 hingga Marketing 6.0 akan dibahas untuk memberikan referensi informasi mengenai perubahan konsep digital marketing terbaru yang berkaitan dengan Digital Marketing, serta strategi implementasinya di perusahaan. 

Semoga pemilik bisnis dan manajer yang tengah berjuang menghadapi tantangan penjualan dan ekspansi di dunia digital yang semakin ketat mendapat informasi baru terkait Marketing 6.0 atau mungkin dapat diskusi dengan tim expert kami melalui program [FREE CONSULTING].

Overview Marketing 6.0 & Data Terkini 

Sebelum ke topik inti, kita akan bahas pondasi awal tentang Marketing 6.0 agar dapat memahami konteks dan bisa menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Sebagai brand/bisnis, kita perlu memahami perubahan perilaku konsumen melalui:

  1. Trend yang dialami oleh bisnis sendiri
  2. Trend global tentang perilaku konsumen
  3. Riset dari expert seperti Philip Kotler, yang merupakan expert sejak Marketing 1.0. Bahkan sudah banyak buku yang ditulis olehnya terkait dunia marketing dan melahirkan berbagai teori digital marketing dan berbagai ilmu wawasan lainnya.

Overview Marketing 6.0 & Data Terkini 

Konsep Marketing 6.0 memiliki titik tekan pada “Pengalaman Pelanggan” & “Basis Komunitas” dimana pelanggan saat ini perlu diberikan pengalaman terbaik saat menggunakan produk atau jasa. 

Atau, sejak awal mereka perlu diberikan gambaran terbaik dan sesungguhnya dalam melihat produk/layanan yang Anda tawarkan, misalnya: 

  • Produk bed cover | Oh, barangnya apakah lembut atau kasar?
  • Produk skincare | Kalau sudah diaplikasikan ke kulit akan seperti apa? Kalau kulitnya sawo matang cocok nggak?
  • Snack atau makanan ringan | Rasanya sangat pedas atau justru tidak pedas sama sekali?
  • Kopi | Buat yang punya asam lambung, kopinya aman nggak?
  • Melihat pengalaman orang lain | Testimoni dari pengguna lainnya bagaimana?

Tantangan bisnis di era Marketing 6.0 ini adalah menyediakan detail informasi terkait pertanyaan calon customer yang ingin diyakinkan sebelum membeli. Bahkan pelanggan terekstrim bisa menanyakan “Cabang terdekat ada nggak? Aku mau nyobain barangnya dulu atau cek dulu,” sehingga konsepnya bisa disebut Online to Offline.

Penelitian GE Capital Retail Bank menemukan fakta bahwa semakin banyak konsumen yang secara ekstensif meneliti suatu produk/layanan, mereka akan terus membandingkan harga dan diskon sebelum melakukan pembelian.

Salah satu hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa 81% konsumen mengakses internet untuk mencari informasi dan menjawab pertanyaan apa pun tentang produk atau layanan sebelum pergi ke toko untuk melakukan pembelian.

Bahkan dalam mencari informasi tersebut, tidak jarang calon konsumen mencari review influencer atau bertanya di komunitas terkait, misal sedang ingin beli aksesoris sepeda. Calon konsumen akan bertanya ke komunitas sepeda tentang barang tersebut. 

Pertanyaannya bisa meliputi: 

  • Apakah ada yang pernah beli?
  • Bagaimana reviewnya?
  • Apakah enak digunakan?
  • Apakah awet?

Meskipun temuan di atas mengacu pada perilaku konsumen dalam melakukan pembelian langsung, perubahan juga terjadi dalam dunia penjualan online/digital.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Revolusi Industri Era 1.0 sampai 4.0

Kaitan Marketing 6.0 dengan Digital Marketing

Marketing 6.0 dalam Digital Marketing memiliki kaitan erat pada “Konten Marketing” & “Pengalaman Digital” sehingga perusahaan ditantang untuk membuat “Konten Digital” se-personal dan se-relevan mungkin dengan kehidupan sehari – hari target customer. Selain itu, customer juga ingin memiliki banyak pilihan media/tempat dimana mereka bisa melakukan pembelian. Itulah mengapa banyak pertanyaan seperti:

  • Ada toko shopeenya kak?
  • Bisa order by WA?
  • Kak ada Tiktok Shop-nya?
  • Ada reseller official di kota aku nggak kak?
  • Ada grup atau nomor konsultasi kak? Aku mau nanya – nanya tentang keluhanku
  • dll

Hal ini membuktikan bahwa Digital Marketing adalah pondasi utama dalam penerapan Marketing 6.0, yaitu dengan memanfaatkan berbagai platform online untuk menjangkau dan berinteraksi dengan pelanggan potensial.

Baca Juga: Era Revolusi Industri 4.0: Update Perkembangan Terbarunya!

Bagaimana Perjalanan Marketing 1.0 – Marketing 6.0

perjalanan marketing 1.0 hingga marketing 6.0

Berikut ini perjalanan konsep marketing di setiap fasenya, mulai dari marketing 1.0 hingga marketing 6.0:

1. Marketing 1.0: Fokus pada Produk dan Kualitas

Pada era Marketing 1.0, banyak perusahaan berfokus pada pengembangan produk berkualitas tinggi dan menciptakan citra merek yang kuat. Sebagai contoh, produsen saus tomat mengutamakan kualitas bahan baku dan rasa produknya untuk menarik perhatian konsumen.

2. Marketing 2.0: Perubahan dalam Perspektif

Era Marketing 2.0 membawa perubahan dalam pendekatan pemasaran, dengan lebih memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sebagai contoh, produsen minuman ringan mulai memperluas portofolio produk mereka dengan memperkenalkan berbagai varian rasa yang disesuaikan dengan preferensi konsumen.

3. Marketing 3.0: Menyentuh Hati Nurani

Marketing 3.0 menekankan pada nilai-nilai sosial dan lingkungan serta berusaha untuk menyentuh hati dan nurani konsumen. Sebagai contoh, perusahaan makanan ringan mulai mendukung program-program sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk program keberlanjutan.

4. Marketing 4.0: Marketing Berbasis Teknologi dan Koneksi

Marketing 4.0 menandai peralihan dari pemasaran konvensional ke pemasaran digital untuk menghubungkan perusahaan dan konsumen. Dari sini, konsep digital marketing terus berkembang hingga ke era-era berikutnya.

Misalnya, produsen sereal sarapan mulai memanfaatkan platform media sosial untuk berinteraksi langsung dengan konsumen, mengumpulkan umpan balik, dan meningkatkan kesadaran merek.

5. Marketing 5.0: Prinsip Keberlanjutan dan Pengalaman

Marketing 5.0 mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dengan pengalaman konsumen yang unik. Sebagai contoh, produsen susu lokal mulai menggunakan bahan baku organik dan mengusung pesan go green dalam kampanye pemasaran mereka untuk menarik konsumen yang peduli dengan lingkungan.

6. Marketing 6.0: Kekuatan Kolaborasi dan Komunitas

Marketing 6.0 membawa transformasi dalam interaksi perusahaan dengan konsumen melalui analisis data dan kecerdasan buatan. Sebagai contoh, produsen makanan beku berkolaborasi dengan influencer kuliner dan komunitas online untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan interaksi dengan konsumen.

Konsumen saat ini perlu validasi lebih dan informasi yang lebih akurat. Karena semakin banyak informasi terkait ‘produknya tidak sesuai harapan,  ‘overclaim marketing’, ‘tidak  percaya lagi sama influencer besar’, dan hal hal lain yang membuat calon konsumen harus bertanya ke komunitas ataupun sumber lain yang lebih netral dan bisa dipercaya.

Itulah mengapa brand juga perlu menggandeng komunitas atau bahkan membuat komunitas seperti kelas kecantikan atau kelas diet 30 hari.

Baca Juga: Revolusi Industri 5.0: Perkembangan, Dampak & Peluang Bisnis

Tabel Komparasi Konsep Marketing 1.0 – Marketing 6.0

Tahapan Marketing Fokus Utama Contoh
Marketing 1.0
(Tahun 1900-an)
Produk dan Kualitas Produsen hanya fokus pada produk yang sudah ada, dan bertujuan terus meningkatkan kualitas produk tersebut. Ditandai dengan tren baru “Produksi Massal” dan kebutuhan akan teknologi manufaktur.
Marketing 2.0
(Tahun 1960-an)
Berorientasi Kepuasan Pelanggan Produsen mulai riset keinginan konsumen dan mempertimbangkan pengembangan varian produk lain.
Marketing 3.0
(Tahun 1980-an)
Koneksi Emosional, Nilai Sosial dan Lingkungan Sebuah perusahaan mengadakan kegiatan sosial, mereka menggandeng Masyarakat dalam kegiatan tersebut.
Marketing 4.0
(Tahun 2000-an)
Teknologi dan Koneksi Perusahaan atau bisnis sudah mulai memiliki website dan konten sosmed yang konsisten dalam edukasi produk
Marketing 5.0
(Tahun 2010-an)
Keberlanjutan dan Pengalaman Sebuah bisnis membranding produknya  sebagai produk “ramah lingkungan” dan mengupgrade konten mereka, membuat produknya terkesan urgent untuk kehidupan. 

Misalnya: Konten untuk produk saus tomat, “Apa ya yang akan terjadi kalau dirumah tidak ada saus tomat?”

Marketing 6.0
(Tahun 2020-an)
Kolaborasi dan Komunitas Sebuah brand berkolaborasi dengan suatu komunitas untuk support kegiatan mereka. 

Misalnya: Produsen saus tomat rutin mengadakan challenge memasak agar orang menikmati bagaimana rasanya masak dengan saus tomat mereka.

 

Dengan memahami evolusi pemasaran dari Marketing 1.0 hingga 6.0, perbedaan, dan contohnya, perusahaan dapat merancang strategi digital marketing yang lebih efektif untuk menjawab tantangan bisnis saat ini.

Baca Juga: Apa Itu Era Disrupsi? Berikut Contoh dan Cara Menghadapinya

Penerapan Strategi Marketing 6.0 di Beberapa Industri

Penerapan Strategi Marketing 6.0

Implementasi strategi Marketing 6.0 dapat bervariasi tergantung pada industri dan target audiens. Contohnya:

Industri Contoh Strategi
Ritel
  • Produksi konten tentang tips & rute belanja bulanan di sebuah ritel
  • Kolaborasi dengan konten kreator kecil yang membahas keuangan keluarga
  • Kolaborasi dengan komunitas Ibu-Ibu arisan untuk mendapatkan voucher khusus 
  • Pembuatan aplikasi untuk pencatatan transaksi pembelian beserta tanggalnya, untuk memberikan notifikasi pengingat belanja setiap bulan dengan fitur poin loyalty
Rumah Sakit & Klinik
  • Konten story telling tentang kasus pasien yang mengabaikan hal-hal kecil setiap hari sehingga jadi penyakit kronis
  • Kolaborasi dengan konten kreator kecil pada layanan spesifik misal General Check Up atau sunat untuk anak
  • Kolaborasi dengan komunitas TK atau PG untuk edukasi kesehatan anak-anak
  • Pembuatan aplikasi berbasis web untuk portal informasi pasien dengan fitur:
    – Mengingatkan jadwal minum obat
    – Rekomendasi aktivitas untuk terapi penyakit tertentu (video atau instruksi)
    – Rekomendasi makanan mingguan yang harus dihindari ataupun yang disarankan dikonsumsi
    – Chatbot Check-Up mingguan untuk menanyakan “Bagaimana kabar kondisi hari ini?” dengan form kuesioner skala 1 sampai 10 untuk masing-masing gejala yang dialami misal batuk, demam, dan pusing,
Travel & Akomodasi
  • Konten storytelling dokumentasi pendek tentang “Gini rasanya jalan-jalan seminggu di Bali pakai mobil travel, lebih irit dan fleksibel.”
  • Kolaborasi dengan konten kreator kecil pada layanan spesifik dengan konsep misal “Open trip ke Pulau Seribu, hotel-nya kok gini ya?”
  • Kolaborasi dengan komunitas solo traveler dengan discount khusus tapi masing – masing wajib membagikan cerita perjalanan mereka di sosial media.
  • Pembuatan Aplikasi Berbasis Web / Digital E-Book untuk rekomendasi destinasi wisata & pencatatan untuk menabung uang untuk wisata.
FnB
  • Konten dokumentasi pengalaman makan sekeluarga di restoran A. Bisa dijelaskan bagaimana fasilitasnya, setup meja, lokasi, hingga pelayanan stafnya.
  • Kolaborasi dengan konten kreator kecil yang spesifik pada menu tertentu, misal “Sidak Influencer Kopi” jadi hanya spesifik review menu kopi 
  • Kolaborasi dengan komunitas senam pagi yang khusus pembelian menu sarapan bisa dapat diskon khusus member
  • Kolaborasi dengan komunitas sepeda pagi sebagai titik poin pemberhentian dan menyediakan free welcome drink
  • Pembuatan QR Menu Order di resto/cafe agar pelanggan tidak usah antri bisa langsung duduk dan scan-pesan-bayar dari meja 
Perawatan Kulit & Kosmetik
  • Konten review “Bongkar Face Wash XXX”. Dalam konten tersebut gunting facewash dari atas untuk memastikan Isi sabun memang lebih banyak dari yang lain. lalu keluarkan Isinya dan ditimbang untuk menunjukan keaslian.
  • Kolaborasi dengan konten kreator kecil untuk promo produk spesifik untuk masing-masing jenis kulit, seperti:
    – Kulit kering
    – Kulit berminyak
    – Kulit kombinasi
Fashion
  • Konten review dengan konsep “baju ketika dipakai dan ketahanan bahan”. Pengetesan bahan juga harus lebih unik, misal apakah ditarik dengan kuat 2 orang karena bahan jatuh, tidak mudah rusak sehingga bahan mudah kembali ke bentuk semula.
  • Kolaborasi dengan influencer berbagai tipe badan & tipe kulit yang cocok menggunakan produk fashion kita.
  • Kolaborasi dengan komunitas target market. Misal bisnis fashion muslim untuk olahraga bisa kolaborasi dengan klub olahraga untuk trial produk baru dan share pengalaman mereka.
  • Pembuatan stiker Instagram atau TikTok tentang produk mereka sehingga secara virtual calon pelanggan bisa lebih membayangkan bagaimana tampilan mereka ketika menggunakan baju atau aksesoris brand kita.

Baca Juga: Apa Itu Transformasi Digital serta Dampaknya di Indonesia? [Pembahasan Lengkap]

Pertanyaan Mengenai Digital Marketing Era 6.0

Berikut ini beberapa pertanyaan seputar digital marketing, khususnya marketing 6.0:

1. Marketing 6.0 dimulai sejak kapan?

Era marketing 6.0 yang sedang kita pijaki saat ini sudah dimulai sejak 2020-an. Di mana interaksi antara manusia dengan teknologi/mesin/robot semakin melekat.

2. Apa saja ciri era marketing 6.0?

  • Pendalaman penggunaan teknologi
  • Orientasi pada kebutuhan konsumen, dengan memaksimalkan penggunaan AI (Artificial Intelligence), data analytics untuk menggali karakteristik pengguna, dan lainnya
  • Immersive: Dunia maya dan nyata seolah bersatu
  • Deep personalization: Koneksi berkelanjutan dengan konsumen

3. Bagaimana contoh strategi marketing 6.0?

Karakteristik Marketing 6.0 berfokus pada penggunaan personalisasi konten berdasarkan perilaku pengguna. Maka contoh penerapan strategi marketing 6.0, misalnya penyiapan konten yang dipersonalisasi sesuai preferensi customer atau data riwayat pembelian.

Baca Juga: Apa Itu Digitalisasi? Berikut Pengertian serta 5 Contohnya

Layanan untuk Akselerasi Teknologi Marketing 6.0

Penting bagi pemilik bisnis atau manager untuk terus mengikuti perkembangan tren pemasaran dan memperbarui strategi mereka agar tetap relevan dan efektif dalam mencapai tujuan bisnis mereka.

Sasana Digital dapat membantu Anda menjalankan strategi efektif Marketing 6.0 dengan 3 layanan utama:

1. Layanan Audit & Consulting

Tahap awal yang dapat Anda lalui sebelum memilih layanan training atau produk IT, adalah tahap konsultasi dan audit. Anda dapat berdiskusi secara gratis dan dua arah bersama tim profesional di Sasana Digital, lalu akan ditinjau saluran digital marketing-nya.

2. Training Digital Marketing

Anda dapat memilih layanan training digital marketing di Sasana Digital, diantaranya adalah Private Training dan Corporate Training. Pelatihan ini didesain untuk memahami digital marketing secara komprehensif, termasuk nilai praktik dan strategis.

Berikut kesan dan pendapat para klien Sasana Digital setelah menggunalan layanan digital marketing di kami:

3. Digital Solution

produk digital marketing 6.0

Layanan digital solution yang dirancang khusus untuk klien kami yang ingin menggunakan jasa pembuatan teknologi untuk akselerasi Marketing 6.0. Yaitu seputar pembuatan program Aplikasi & Sistem perusahaan berbasis web dan mobile.

Penutup

Dengan memahami konsep digital Marketing, teori digital marketing, perjalanan marketing 6.0, serta penerapannya, perusahaan dapat meningkatkan daya saingnya di pasar yang semakin kompetitif. 

Jika teori digital marketing sudah lebih mudah didapatkan secara online dari mana saja, maka melalui layanan kami, Anda dapat mengetahui hingga ke strategi dan praktiknya.

Mari kita diskusikan tantangan bisnis Anda dalam marketing 6.0 untuk lebih mampu bersaing di era digital yang semakin ketat ini. Mau coba konsultasi gratis?

Bagikan Artikel Ini

Sasana Digital Open for Paid Backlink & Guest posting

Layanan Sasana Digital

WhatsApp