Blog ›

Metode OEE (Overall Equipment Effectiveness) di Manufaktur

I

Proses produksi merupakan salah satu faktor utama dalam keberlangsungan industri manufaktur. Karena itu, mengukur efektivitas produksi adalah kunci utama keberhasilan industri. Pertanyaannya, apa standar yang digunakan untuk melakukan itu?

Kegiatan produksi bukanlah hal yang mudah. Bayangkan jika Anda harus memproduksi ribuan produk yang sama dalam sehari, bagaimana Anda bisa yakin kalau produk tersebut dapat diproduksi dengan jumlah dan kualitas yang tepat? 

Belum lagi Anda juga harus menghitung berapa hasil yang didapatkan dari proses produksi Anda! Jika hasil yang diberikan berada di bawah modal untuk membeli bahan baku, maka habislah bisnis Anda!

Dari sekian rumitnya kegiatan bisnis manufaktur, apa yang membuat para pelaku bisnis bisa yakin kalau sumber daya mereka akan selalu memberikan performa yang baik?

Apa Itu Overall Equipment Effectiveness (OEE)?

 

Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah suatu metode standar untuk mengukur kinerja mesin produksi dalam penerapan program TPM (Total Productive Maintenance).

OEE merupakan kombinasi antara 3 faktor: ketersediaan, kinerja, dan kualitas yang memberi tahu Anda seberapa efisien suatu aset selama proses manufaktur.

Baca juga: 6 Kegagalan Utama Industri Manufaktur, Bagaimana Cara Mencegahnya?

3 Indikator Utama Perhitungan OEE

1. Availability

Apabila Availabillity mencapai skor 100% dari availability artinya bahwa prosesnya selalu berlangsung selama waktu perencanaan produksi (tidak pernah berhenti). 

Faktor Availability memperhitungkan Downtime, termasuk setiap kejadian yang menghentikan produksi terencana dalam jangka waktu yang signifikan (Biasanya beberapa menit, atau cukup panjang untuk dimasukkan dalam kelompok kejadian yang dapat dilacak (Trackable Event).

2. Performance

Skor 100% performance artinya saat prosesnya berlangsung maka proses tersebut harus berlangsung secepat mungkin. 

Faktor Performance memperhitungkan Speed Loss, termasuk didalamnya semua faktor yang menyebabkan melambatnya laju proses, dimana proses berjalan dibawah kecepatan maksimumnya.

Contohnya, mesin usang, material tersendat, kesalahan material, dan inefisiensi operator. Waktu yang tersisa ini disebut Net Operating Time.

3. Quality

Skor 100% dari quality artinya tidak ada kerusakan (Defects) dan mesin mampu memproduksi hasul yang terbaik. 

Faktor Quality memperhitungkan Quality Loss, termasuk didalamnya perhitungan produk terproduksi yang tidak memenuhi standar kualitas, dan produk yang membutuhkan rework.

Waktu yang tersisa disebut Fully Productive Time. Singkatnya quality disini adalah perbandingan antara jumlah unit produk baik yang berhasil diproduksi dibanding dengan total jumlah unit produk.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Revolusi Industri Era 1.0 sampai 4.0

Bagaimana Cara Menghitung OEE?

  1. Availability. Apakah mesin selalu bisa digunakan ketika dibutuhkan?
  2. Performance. Berapakah banyak hasil yang diproduksi mesin tersebut?
  3. Quality. Seberapa bagus dari produk yang dihasilkan?

Idealnya, OEE bisa bernilai 100%, yang artinya mesin selalu siap memproduksi dengan hasil yang maksimal dan kualitas terbaik.

Namun tentu saja mesin tidak akan bisa dalam kondisi prima untuk selamanya karena tergantung pada perawatan yang dilakukan.

Contoh Perhitungan OEE Sederhana

Anggaplah Anda memiliki mesin yang ingin Anda hitung OEE-nya, lalu Anda menemukan data-data dari faktor OEE seperti dibawah ini:

• Mesin hanya beroperasi kurang lebih 11 jam dari total 12 jam operasional – artinya skor availability-nya hanya 91.7%

• Mesin mampu memproduksi 1.000 produk per jam, dan seharusnya bisa memproduksi total 12.000 produk dalam 1 hari. Namun karena availability-nya tidak optimal, maka total produksi hanya 11.500 saja – sehingga skor performance-nya sekitar 95.8%

• Terakhir dari total 11.500 produk yang diproduksi, ternyata hanya 11.450 produk yang kualitasnya baik – artinya quality-nya hanya 99.5%

Terakhir Anda bisa mendapatkan skor OEE total dengan mengalikan seluruh angka yang Anda dapatkan dari perhitungan tadi:

OEE: 91.7% x 95.8% x 99.5% = 87.4%

Dari sini Anda tahu bahwa skor OEE mesin Anda berada di angka 87.4 persen.

Baca Juga: Sukses Menghadapi Era Transformasi Digital Dengan Konsep 5C

Mengapa Perhitungan OEE Penting untuk Dilakukan?

Mengetahui nilai OEE dari setiap mesin sangatlah penting, mengingat OEE adalah indikator utama dalam kinerja mesin Anda. Ada 3 alasan mengapa Anda harus selalu mengawasi metrik OEE secara berkala agar bisnis bisa berlangsung tanpa hambatan:

• Sebagai Standar Kelayakan Produksi

Dengan standar OEE yang sesuai, Anda bisa menentukan seberapa banyak performa mesin yang dibutuhkan untuk menutup biaya operasional.

Tentukan saja batas bawah OEE-nya, dan jika nilai OEE berapa diatas batas tersebut artinya proses produksi berjalan optimal.

Mengetahui Kapan Harus Melakukan Perawatan

Nilai OEE rendah pertanda bahwa mesin harus dirawat. OEE bisa membantu Anda untuk memperkirakan masalah yang terjadi pada mesin, dan bagaimana yang perlu diperbaiki guna mengembalikan performanya.

Mengetahui Mana Mesin yang Underperformed

Mesin yang tidak memberikan performa maksimal adalah mimpi buruk bagi industri manufaktur. Karena artinya produksi tidak bisa maksimal, dan tentunya bisa berdampak pada pemasukan yang didapatkan perusahaan

OEE bisa menginformasikan apakah performa mesin berada di bawah rata-rata atau tidak. Dan dengan mengetahuinya, Anda bisa mengatasinya secepat mungkin tanpa perlu menerka-nerka terlebih dahulu. 

Implementasi OEE di Berbagai Sektor Manufaktur

Gambar dampak implementasi OEE di berbagai sektor industri

Sekarang mari kita bahas tentang bagaimana implementasi OEE di berbagai sektor industri, mengingat masing-masing industri tersebut memiliki karakteristiknya tersendiri.

Beberapa data yang relevan dengan peningkatan OEE di berbagai sektor manufaktur contohnya:

  • Industri Elektronik: Data uji produk dan manajemen stok bahan baku berperan besar dalam mempengaruhi OEE. Peningkatan 15% OEE dapat meningkatkan produktivitas hingga 30-50%.
  • Industri Kimia, Minyak, dan Gas: Efisiensi proses reaksi produksi dapat dievaluasi menggunakan OEE untuk mengidentifikasi area-area yang dapat dioptimalkan. Peningkatan 20% OEE dapat menghasilkan peningkatan produktivitas sekitar 50%.
  • Industri FMCG: Data kualitas bahan baku dan parameter produksi seperti suhu dan tekanan dapat digabungkan dengan data OEE. Peningkatan 20% OEE dapat meningkatkan produktivitas antara 10%-40%.
  • Industri Makanan dan Minuman: Sama seperti FMCG, data kualitas bahan baku dan parameter produksi dapat berkontribusi pada peningkatan OEE. Peningkatan 15% OEE dapat meningkatkan produktivitas hingga 50%.
  • Industri Farmasi: Pengendalian kualitas, pemantauan suhu, dan kelembaban menjadi fokus dalam meningkatkan OEE di industri farmasi. Peningkatan 10-15% OEE dapat meningkatkan produktivitas sebesar 50%.

Dalam setiap sektor, pengumpulan dan analisis data yang akurat adalah kunci untuk meningkatkan OEE. Kami merekomendasikan pemanfaatan teknologi digital seperti OEE Dashboard dan OEE Display untuk memudahkan akses dan pemahaman terhadap data ini.

Peningkatan OEE bukan hanya tujuan, tetapi langkah menuju perubahan signifikan dalam efisiensi dan produktivitas produksi.

Pengaruh OEE Terhadap Pendapatan & Profit Perusahaan

Gambar dampak implementasi oee di perusahaan manufaktur

Penerapan teknologi OEE, seperti OEE Dashboard, OEE Display Board, dan OEE Report in SAP, menjadi kunci untuk mendapatkan visibilitas yang dibutuhkan terhadap kinerja produksi manufaktur secara real-time

Dengan mempertimbangkan berbagai indikator, termasuk biaya tetap (Fix Cost) dan biaya variabel (Variable Cost), Sasana Digital mencoba untuk mengevaluasi hubungan antar biaya tersebut.

Hasil luar biasa yang dapat Anda lihat adalah di mana dengan peningkatan sebesar 10% saja pada implementasi OEE, perusahaan sudah dapat mengalami lonjakan keuntungan hingga 182%.

Ini terjadi karena produksi yang lebih efisien menghasilkan lebih banyak produk, dan proses produksi menjadi lebih optimal. Akibatnya, Harga Pokok Produksi (HPP) produk dapat menurun, sementara harga jual tetap stabil.

3 Fase Penerapan OEE secara Digital

Berikut adalah 3 fase penerapan OEE secara digital yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi & produktivitas perusahaan Anda:

Tahap 1: Digitalisasi Pencatatan Data dengan Tablet

Pada tahap 1 ini, fokus utama adalah digitalisasi pencatatan data dengan memanfaatkan tablet untuk operator di lapangan.

Mengapa menggunakan tablet? Alasan utamanya adalah untuk memfasilitasi proses migrasi dengan mempertimbangkan perilaku pengguna dan transfer data.

Dengan menggunakan tablet, proses migrasi menjadi lebih mudah tanpa perlu mengubah secara drastis SOP perusahaan.

Dalam satu hari pelatihan, perubahan tidak signifikan pada SOP dapat diintegrasikan. Data menjadi terpusat, OEE dashboard dapat langsung diakses, dan data KPI produksi lainnya dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.

Tahap 2: Data Report Instan untuk Keputusan yang Cepat & Tepat

Penerapan tahap ke-2 ini akan membawa manfaat berupa data report instan sehingga dapat membantu mid hingga top level manager untuk mendapatkan pemahaman cepat akan kondisi di lapangan.

Selain cepat, hal ini juga akan membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat, akurat, serta tindakan yang lebih sigap.

Sebagai contoh studi kasus, salah satu klien Sasana Digital yang berhasil berhasil menghemat kertas sebesar 80 juta per tahun dan meningkatkan produksi sebesar 30% karena masalah-masalah mesin dapat diatasi dengan strategi yang tepat.

Tahap 3: Condition-based Menuju Predictive-based Maintenance

Pada tahap ke-3, manajer dan staf produksi akan semakin terampil dalam meningkatkan performa mesin dengan data OEE.

Ini akan membawa perubahan menuju maintenance yang lebih baik, dari Condition-Based Maintenance dengan biaya yang tinggi menuju Predictive Maintenance dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.

Dengan predictive maintenance, mesin produksi menjadi lebih optimal karena masalah jarang terjadi, menghasilkan output produksi yang lebih baik.

Melalui langkah-langkah ini, perusahaan manufaktur dapat secara bertahap meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan pengambilan keputusan, dan memastikan bahwa mesin produksi beroperasi secara optimal dengan biaya maintenance yang lebih efektif.

Itulah mengapa solusi seperti OEE Dashboard, OEE Display Board, dan OEE Report in SAP dapat memberikan hasil yang maksimal karena merupakan bentuk penerapan strategi OEE secara digital.

Contoh Display & Dashboard Report OEE

Gambar Contoh OEE Dashboard & OEE Report
Contoh OEE Dashboard & OEE Report
Contoh Summary OEE Report
Contoh Summary OEE Report
Gambar Contoh Analisis Pareto dengan OEE
Contoh Analisis Pareto dengan OEE
Gambar Contoh Laporan Statistik Produksi OEE
Contoh Laporan OEE untuk Statistik Produksi

Sudahkah Anda Menghitung OEE Seluruh Lini Produksi Anda?

Menghitung OEE secara manual tentu tidak disarankan, mengingat nilai OEE bisa berubah setiap waktu bergantung pada kapasitas mesin.

Tidak menutup kemungkinan juga nilai OEE bisa terjun bebas dalam 1 hari, karena kerusakan teknis tiba-tiba yang tidak terduga.

Karena itu, Anda perlu menggunakan sistem ERP (Enterprise Resource Planning) yang dapat diandalkan guna memonitor metrik OEE setiap mesin secara real time.

Dengan Anda memahami OEE secara tepat dan akurat, Anda bisa menjaga performa bisnis Anda baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Berkeinginan menerapkan konsep automasi yang modern di bisnis, perusahaan, atau pabrik Anda? Sasana Digital punya solusinya!

Melalui layanan Digital Solution, kami dapat membantu Anda untuk lebih dekat dengan pelanggan (CRM), ataupun memaksimalkan performa lini produksi Anda dengan lebih efisien (Machine Monitoring & Analytics). Yuk, simak detailnya lebih lengkap!

Bagikan Artikel Ini

Layanan Sasana Digital