fbpx
Mengenal Strategi Conversion Rate Optimization (CRO), Bagaimana Cara Memanfaatkannya?

Mengenal Strategi Conversion Rate Optimization (CRO), Bagaimana Cara Memanfaatkannya?

Conversion atau konversi merupakan goal akhir dari semua strategi digital marketing. Bagaimana anda bisa membuat strategi yang mengoptimasi rasio konversi anda dengan CRO (Conversion Rate Optimization), sehingga anda bisa mendapatkan jumlah konversi yang lebih baik?

Konversi adalah goal akhir yang seharusnya anda target setiap kali anda mengeksekusi strategi digital marketing. Dengan adanya konversi yang jelas, maka arah kampanye anda pun lebih terarah dan anda tahu apa yang anda kejar.

Jenis konversi ada banyak, bergantung pada jenis kampanyenya. Namun umumnya konversi biasa diartikan sebagai hasil yang memiliki nilai tersendiri. Contohnya mengumpulkan subscriber atau kontak leads.

Apa Itu Conversion Rate?

Conversion rate atau rasio konversi merupakan metrik rasio antara jumlah pengunjung dengan total konversi. Misalnya jika situs mendapatkan 1.000 pengunjung dan mendapatkan 10 konversi, maka rasio konversinya adalah 1%.

Rasio konversi sangatlah vital, mengingat rasio ini menunjukkan relevansi antara strategi yang anda eksekusi dengan pengalaman yang ada di dalam website. Dan metrik ini sangatlah cocok jika disandingkan dengan CTR atau Click Through Rate atau rasio klik dengan tayangan. Dimana jika CTR tinggi dan Conversion Rate rendah, maka kita bisa tahu bahwa kesalahan bukan pada targeting, namun pada websitenya.

Bagaimana Mendefinisikan Konversi?

Konversi bisa anda definisikan sesuai dengan goal iklan anda. Misalnya jika iklan dijalankan untuk mendapatkan sales, maka sales itulah definisi konversinya. Namun jika iklan memiliki tujuan untuk meningkatkan followers, maka peningkatan followers adalah definisi konversinya.

Untuk strategi digital marketing dengan nilai pengeluaran yang besar, maka sangat disarankan untuk mendefinisikan konversi yang memiliki nilai. Mengapa? Agar jelas berapa persen modal anda yang kembali dan berapa persen keuntungan yang anda dapatkan.

Bagaimana Digital Marketing Mencatat Konversi?

Setelah anda mendefinisikan konversi, anda harus mencocokan dengan metode konversi itu didapatkan di website atau channel digital marketing yang anda gunakan.

Temukan detail seputar dunia digital marketing di halaman kursus digital marketing kami.

Misalnya tadi jika konversi anda adalah lead dari form, maka mungkin anda perlu melacak setiap klik “submit” yang terjadi di dalam website. Anda juga harus memastikan bahwa tidak ada double track yang terjadi pada sistem tracking anda.

Untuk merekam konversi, anda bisa menggunakan aplikasi analytics seperti Google Analytics atau Facebook Analytics. Keduanya bisa merekam kejadian di dalam website dengan cukup baik. Ada 2 hal yang perlu anda perhatikan saat memantau datangnya konversi:

Total Konversi

Total konversi merupakan jumlah konversi yang terlacak. Jika anda menggunakan aplikasi analytics, maka hanya channel terakhir (last click) yang akan mendapatkan poin konversi.

Anda pun bisa mendefinisikan semua jenis konversi anda, lalu aplikasi akan melacak secara otomatis jumlah konversi yang terjadi. Total konversi yang tercatat haruslah dicocokan dengan yang ada di data anda, sebab seringkali ada duplikasi konversi yang terjadi karena pemasangan kode yang tidak sesuai.

Atribusi Konversi

Jika anda menggunakan lebih dari satu channel pemasaran, maka atribusi wajib anda lihat dan periksa terlebih dahulu. Mengingat pelanggan mungkin berinteraksi dengan beberapa konten anda (misalnya berinteraksi dengan 2 iklan anda, baik di Google Ads dan Facebook Ads).

Tanpa atribusi yang benar, anda bisa saja menemukan double track dimana masing-masing platform ads mencatat poin konversi dari 1 orang yang sama.

Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Atribusi di Dalam Dunia Digital Marketing

Faktor dalam CRO

Jika anda berencana untuk mulai meningkatkan conversion rate anda, maka anda perlu mengetahui faktor-faktornya terlebih dahulu. Umumnya strategi peningkatan rasio konversi, harus memperhatikan 3 faktor ini:

Funnel

Pertama, definisikan strategi marketing funnel yang akan anda gunakan. Umumnya funnel terbagi menjadi 3 tahap: awareness, consideration, dan decision. Namun tidak menutup kemungkinan kalau bisa lebih panjang atau pendek, bergantung pada profil bisnis anda.

Funnel yang baik haruslah saling berhubungan satu dengan yang lain. Artinya tidak ada audience yang terbuang tanpa terolah dengan sempurna. 

Funnel juga bisa menuntun audiens anda sesuai dengan profil mereka masing-masing. Mana yang masih baru mengenal, mana yang sudah paham masalahnya, dan mana yang sudah siap membeli.

Perlu diperhatikan bahwa funnel setiap bisnis bisa berbeda.

Baca Juga: Tutorial Digital Marketing: Mengenal User Journey

Konten

Konten iklan memegang peran penting di dalam peningkatan rasio konversi. Satu hal yang perlu diperhatikan, jika anda sering menggunakan gimmick marketing, maka anda perlu memastikan bahwa gimmick yang ditawarkan memberi nilai tambah terhadap produk yang dijual.

Salah satu contoh kesalahan yang sering terjadi adalah memberikan diskon namun dengan kondisi yang bertentangan. Misalnya, menulis diskon 50% di konten namun ternyata diskon yang dimaksud bukan diskon barangnya, tapi diskon untuk after sales service atau aksesoris. Tentu saja perbedaan itu akan menurunkan rasio konversi anda.

Landing Page

Terakhir anda harus memastikan bahwa landing page atau website tempat customer mendarat setelah berinteraksi dengan iklan, bisa berfungsi dengan maksimal dan tidak mempersulit calon pelanggan.

Ada banyak brand yang membuat landing page dengan memasukkan informasi yang terlalu banyak. Informasi yang bertumpuk ini bisa menimbulkan kebingungan pada pengunjung dan berakhir pada bounce, alias keluar tanpa melakukan interaksi apapun.

Karena itu, buatlah website atau landing page yang mempermudah pelanggan dalam melakukan konversi. Berikan hanya informasi kunci dan lengkapi dengan CTA yang mempermudah pengunjung dalam melakukan aksi berikutnya.

Temukan Solusi dan Strategi CRO Bersama Sasana Digital!

Cukup panjang ya? Mengingat konversi adalah hasil akhir yang diharapkan dari strategi digital marketing, maka tidak aneh kalau metode optimasinya yang sangat ‘daging’. Mungkin anda akan menemui kesulitan di awal, namun pada akhirnya anda bisa mendapatkan hasil yang lebih besar dari setiap rupiah yang anda keluarkan.

Comments are closed.