fbpx
Tips Optimasi Strategi Digital Ads Dengan Customer Match

Tips Optimasi Strategi Digital Ads Dengan Customer Match

Menarget pelanggan existing di internet memang ide yang bagus, namun bagaimana caranya memastikan bahwa kampanye Anda menjadi semakin efektif? Temukan tipsnya di artikel ini

Pernahkah Anda terpikir apakah ada cara menjangkau pelanggan Anda lewat digital ads tanpa perlu menghubungi mereka secara langsung? Mengingat Anda sudah memiliki data pelanggan seperti email dan nomor telepon mereka. Apakah data ini bisa digunakan untuk menjangkau mereka kembali?

Customer Match, Jangkau Pelanggan Anda di Internet

Jawabannya ternyata bisa! Jenis penargetan ini dikenal sebagai penargetan customer match atau customer list, dimana Anda membuat daftar penargetan yang berisi data-data dari pelanggan yang sudah Anda dapatkan sebelumnya.

Umumnya Anda hanya memerlukan data identifikasi khusus seperti email dan nomor telepon, dimana kedua data ini tidak mungkin bisa terduplikasi alias unik. Sistem nantinya akan melakukan pencocokan antara data yang Anda berikan dengan database mereka.

Dan jika ada yang cocok, misalnya jika sistem menemukan pengguna yang menggunakan email yang sama dengan data yang Anda masukan, maka iklan akan tampil ke mereka. Canggih bukan?

Perhatian! Hanya gunakan data yang Anda dapatkan secara legal untuk dimasukkan ke dalam list targeting customer match. Penyalahgunaan data pelanggan bisa menimbulkan resiko hukum di kemudian hari.

Beberapa Fungsi Penargetan Customer Match

Tentu saja tipe penargetan ini sudah banyak digunakan oleh berbagai pengiklan di luar sana. Dan menurut situs wordstream, salah satu penyedia jasa layanan digital marketing yang cukup terkenal, memberikan pernyataan bahwa klien-klien mereka bisa mendapatkan rasio konversi sampai 3 kali lipat!

Retarget dan Follow Up

Ini adalah fungsi utama dan yang paling sering digunakan oleh berbagai jenis pengiklan. Mereka melakukan list kepada para pelanggan mereka yang sudah terdaftar namun tidak jadi beli atau tidak jadi melakukan transaksi.

Data-data pelanggan yang masih menggantung ini kemudian ditargetkan ke dalam digital ads yang ada. Nantinya strategi ini akan dikombinasikan dengan teknik follow up seperti biasa, yang nantinya juga bisa meningkatkan efektivitas branding baik dari chat one to one maupun dengan jangkauan iklan di berbagai platform.

Upselling Product

Upselling atau melakukan penjualan lebih lanjut juga bisa dilakukan lewat customer match. Dimana Anda mendaftar pelanggan yang sudah terdaftar atau membeli produk/layanan tertentu, dan kemudian Anda targetkan untuk mengiklankan fitur upgrade yang Anda tawarkan.

Tentu saja strategi menawarkan paket lebih tinggi akan jauh lebih relevan jika ditayangkan ke pelanggan yang sudah merasakan pengalaman menggunakan produk/layanan Anda terlebih dahulu, dibandingkan dengan yang sama sekali belum pernah membeli.

Perluas Jangkauan dengan Lookalike Audience

Jika Anda merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara mendefinisikan calon pelanggan baru, maka Anda juga bisa menggunakan daftar pelanggan Anda sebagai dasar dari pembuatan Look A Like atau Similar Audience.

Kedua jenis audience ini dibuat dengan mencocokan data platform dengan data pelanggan Anda. Nantinya platform akan menentukan apakah ada profil pengguna mereka yang memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan pelanggan Anda, dan nantinya jika cocok maka mereka akan dimasukkan ke dalam list yang baru.

Baca juga: 5 Kursus Digital Marketing Gratis yang Bisa Anda Pelajari Untuk Pemula

Segmentasi Pasar

Sebenarnya hampir sama dengan poin pertama dan kedua tadi, hanya saja ini lebih spesifik untuk menentukan segmentasi pasar untuk menayangkan produk yang sesuai dengan profil pelanggan Anda.

Misalnya saja jika Anda memiliki 2 jenis produk/layanan, dimana keduanya memiliki level layanan dan harga yang berbeda, maka Anda bisa mensegmentasikan strategi pemasaran digital Anda dengan bantuan customer match ini.

Dan nantinya ketika kampanye Anda dijalankan, maka hanya mereka yang masuk ke dalam segmentasi pelanggan saja yang bisa melihat kampanye Anda. Sehingga mengurangi biaya tayangan iklan yang tidak perlu.

Di Mana Saja Bisa Menggunakan Customer Match?

Sekarang pertanyaannya platform mana yang menyediakan solusi penargetan berdasarkan daftar pelanggan?

Social Media Ads

Hampir semua vendor social media ads, mulai dari Facebook sampai LinkedIn telah mendukung penargetan customer list. Tidak ada syarat khusus untuk melakukan penargetan, dan Anda bisa langsung menggunakan data pelanggan secara langsung berikut dengan look a like atau similar audiences yang disediakan.

Anda juga bisa mengkombinasikan customer match Anda dengan opsi penargetan lain, seperti Interest Targeting.

Google Ads

Sedangkan di Google Ads, Anda harus memiliki minimum transaksi terlebih dahulu (sekitar 90.000 US Dollar untuk 3 bulan terakhir) untuk bisa mulai menggunakan tipe penargetan ini.

Syarat yang diberikan berguna untuk memfilter pengiklan nakal yang berniat menyalahgunakan data pelanggan untuk spamming, mengingat iklan Google Ads bisa tayang di berbagai jaringan, bahkan termasuk aplikasi dan website yang tidak dimiliki Google.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengendalikan Biaya Akuisisi Dalam Digital Marketing

Pelajari Strategi Digital Marketing Lain di Sasana Digital!

Nah sekarang Anda sudah paham kan bagaimana cara menjangkau pelanggan existing Anda di dunia internet melalui strategi digital ads yang lebih lanjut? Tentu saja strategi penargetan yang ada tidak hanya sampai di sana! Anda bisa mempelajari dunia digital marketing lebih lengkap bersama Sasana Digital.

 

5 Kursus Digital Marketing Gratis yang Bisa Anda Pelajari Untuk Pemula

5 Kursus Digital Marketing Gratis yang Bisa Anda Pelajari Untuk Pemula

Belajar sesuatu yang baru memang kadang membuat kita ragu. Karena itu kami merekomendasikan 5 kursus digital marketing gratis ini untuk Anda yang baru belajar

Belajar digital marketing memang bukan perkara simpel, apalagi tidak ada jurusan khusus digital marketing di jalur pendidikan formal. Ini membuat mempelajari digital marketing menjadi ambigu, karena tidak adanya map yang tepat untuk memandu kita dalam belajar.

Memang ada ratusan atau bahkan ribuan kursus berbayar di luar sana. Namun tidak sedikit juga yang mematok biaya tinggi, padahal yang dipelajari ternyata baru dasar-dasarnya saja. Anda bisa saja terkena jebakan tersebut jika buta sama sekali tentang dunia digital marketing!

Karena itu kami akan memberikan beberapa rekomendasi pilihan kelas digital marketing gratis untuk pemula.

Perhatian! Semua Kelasnya Dalam Bahasa Inggris!

Di Indonesia kelas digital marketing yang disediakan gratis masih sangat terbatas. Karena itu, kelas-kelas yang kami infokan semuanya menggunakan Bahasa Inggris karena materinya berasal dari luar negeri (ada yang resmi dari Google dan Facebook).

Jadi pastikan Anda memiliki pengetahuan Bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum melihat kelas yang kami rekomendasikan.

Baca juga: 5 Tips Memilih Kursus Digital Marketing Untuk Pemula dan Amatir

Google Digital Garage

Google Digital Garage merupakan kelas digital marketing untuk pemula yang dikeluarkan resmi oleh Google. Kelas ini membahas tentang dunia digital marketing secara garis besar, mulai dari SEO sampai Google Ads.

Sangat cocok untuk dipelajari oleh Anda yang sama sekali belum memiliki pengetahuan tentang digital marketing. Sebab Google Digital Garage akan mengupas kulit digital marketing sampai tuntas, dan Anda akan mengetahui apa yang harus Anda pelajari selanjutnya.

Google Digital Garage juga menyediakan sertifikasi setelah mengikuti kelas secara gratis.

Facebook Blueprint

Ini merupakan kelas resmi yang dikeluarkan oleh Facebook yang berisi tentang tutorial produk-produk Facebook (seperti Facebook Page, Instagram, dan Facebook Ads). Anda bisa memilih kelas yang Anda butuhkan dan mengikutinya secara terpisah.

Baca juga: Perbedaan Google Ads dan Facebook Ads, Mana Yang Lebih Cocok Untuk Anda?

Sayangnya Facebook Blueprint hanya memberikan informasi dasar tentang dunia Facebook saja, sedangkan jika Anda ingin mempelajari level mahirnya Anda tetap harus mencari informasi dari luar.

Facebook Blueprint menyediakan sertifikasi dengan biaya mulai dari 100 US Dollar per subjeknya.

Hubspot Academy

HubSpot merupakan salah satu vendor CRM (Customer Relationship Software) yang berbasis di Amerika Serikat. HubSpot ternyata juga menyediakan beragam kursus gratis di dunia digital marketing secara lengkap lewat situs academy-nya.

Mulai dari Inbound Marketing, Social Media Advertising, Google Ads, dan banyak lagi. Dan yang membuatnya lebih seru, kelas-kelas di HubSpot juga dilengkapi dengan workbook dan test bersertifikat secara gratis.

LinkedIn Online Course (Dulunya Lynda)

Jika Anda adalah pengguna sosial media LinkedIn, maka seharusnya Anda tidak asing dengan layanan kursus online gratis ini. Di LinkedIn, Anda bisa mempelajari dunia digital marketing secara lengkap dan sebagian kelasnya ada yang gratis.

Namun perlu diingat, hanya kelas-kelas pemula saja yang diberikan cuma-cuma. Jika Anda tertarik untuk mempelajari bidang tersebut lebih lanjut, maka Anda harus berlangganan terlebih dahulu dengan biaya sekitar 300 US Dollar setiap bulannya.

SEMRush Academy

Tertarik untuk mendalami dunia SEO? SEMRush Academy memberikan berbagai kelas gratis untuk Anda yang tertarik dengan seluk beluk mesin pencari. Mengingat SEMRush sendiri adalah salah satu vendor tools SEO yang ternama di dunia, maka kelas yang diberikan tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.

SEMRush juga memberikan sertifikasi setiap kelasnya secara gratis. Perlu diketahui bahwa sertifikat yang ada di SEMRush memiliki kadaluarsa, sehingga harus Anda perpanjang kembali setiap kurun waktu tertentu.

Mau Belajar Lebih Lanjut? Hubungi Layanan Kursus Digital Marketing Sasana Digital!

Belajar dari sumber gratis memang menyenangkan, sebab Anda bisa mempelajari hal yang baru tanpa membayar sepeser pun. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa kelas gratis hanya memberikan gambaran besar saja kepada Anda. Jika Anda tertarik untuk belajar lebih lanjut, kami juga menyediakan berbagai pilihan kelas digital marketing, sesuai dengan kebutuhan Anda.

Mengapa Digital Marketing Lebih Efektif Jika Memiliki Website?

Mengapa Digital Marketing Lebih Efektif Jika Memiliki Website?

Jika Anda sering mencari tahu informasi strategi digital marketing, Anda tentu akan menemukan narasi dimana website diwajibkan. Pertanyaannya apakah memang sepenting dan sedarurat itu?

Website sering disebut-sebut sebagai holy grail dari digital marketing. Semua perusahaan dituntut untuk memiliki website agar strategi pemasaran digitalnya semakin efektif. Namun, tentunya Anda pernah bertanya-tanya memangnya digital marketing tidak bisa dilakukan tanpa website? Mengingat harga pembuatan website tidak semurah itu.

Keuntungan Memiliki Website

Tentunya ada kelebihan tersendiri dari memiliki website dibandingkan dengan yang tidak. Dan perbedaan itu benar-benar terasa, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Anda Menguasai 100% Data Aktivitas

Jika Anda menggunakan platform pihak ketiga seperti marketplace atau social media, data yang Anda miliki tidak sepenuhnya milik Anda. Ada limitasi-limitasi yang diberikan, contohnya Anda tidak bisa melihat secara pasti dari mana sumber lalu lintas pengunjung akun sosial media/marketplace Anda.

Dan juga, Anda tidak bisa merekam aktivitas-aktivitas khusus seperti mempelajari flow pengunjung dari konten ke konten atau menganalisa perilaku dari setiap CTA yang dipasang.

Berbeda dengan website dimana kita memegang kendali 100% terhadap data yang kita inginkan. Kita bisa tahu persis dari iklan mana traffic berasal, kemana saja pengunjung berjalan dari satu halaman ke halaman lain, dan sebagainya.

Baca juga: Mengenal Konsep Single Landing Page, Website Satu Halaman Untuk Meningkatkan Jumlah Konversi

Tracking Lebih Fleksibel

Satu-satunya cara untuk melakukan tracking yang paling fleksibel hanyalah dengan menggunakan website. Di website, Anda bisa benar-benar tahu seberapa jauh kualitas halaman/produk/konten yang telah dibuat dengan berbagai manam metrik.

Mulai dari Bounce Rate, Conversions Rate, sampai Conversion Attribution semuanya bisa Anda dapatkan. Dengan begitu Anda bisa memilih dan mengoptimasi produk-produk yang memberikan performa terbaik saja, dan meninggalkan produk lain yang mengurangi performa pemasaran Anda.

Penyesuaian Funnel Marketing yang Lebih Mendalam

Di platform lain, Anda tidak bisa (atau terbatas) membuat funnel marketing untuk mentarget pelanggan berdasarkan dari kegiatan mereka. Di Instagram misalnya, opsi penargetan ulang (retargeting) hanya terbatas pada engaged post dan engaged account saja, dan tidak ada yang lain.

Di marketplace malah Anda sama sekali tidak bisa melakukan ini. Padahal pemasaran berbasis funnel marketing sangat penting untuk memberikan pengalaman yang sesuai dengan aktivitas pengguna.

Misalnya saja, Anda tentu tidak mungkin mendapatkan pembelian (purchase) dari audiens yang masih di tahap pengenalan brand bukan? Dan Anda juga tidak mungkin mengiklankan produk kecantikan kepada mereka yang tertarik kepada teknologi.

Baca juga: Tutorial Digital Marketing: Mengenal User Journey

Masalah di atas bisa diatasi jika Anda memiliki website. Karena di website, Anda bebas mendefinisikan audiens sesuai keinginan Anda. Mau mendefinisikan audiens yang berkunjung 2 kali? Atau mau menarget mereka yang hanya mengunjungi halaman tertentu? Semua bisa jika Anda menggunakan website!

Bebas Menyesuaikan Metode Closing

Metode closing atau cara mendapatkan konversi bisa Anda definisikan sebebas mungkin di website. Di platform pihak ketiga, Anda hanya dibatasi pilihan-pilihan yang mungkin tidak begitu cocok dengan apa yang Anda kejar (seperti hanya purchase atau engagement semata).

Tetapi di website Anda bisa menggunakan register, subscribe, follow, atau berbagai aktivitas lainnya sebagai definisi closing Anda. Ini membuat website menjadi media yang paling bisa diandalkan dalam melakukan growth hacking bisnis, sebab Anda bisa mengatur sendiri definisi konversi yang sedang dikejar.

Bisa Dikombinasikan dengan Berbagai Strategi

Dengan menggunakan website, bukan berarti media lain menjadi tidak berguna. Justru dengan adanya website ini Anda berkesempatan untuk memaksimalkan potensi dari beragam cara pemasaran. Seperti penggunaan conversions goal dalam FB ads dan Google Ads.

Anda pun bisa menganalisa strategi mana yang memberikan hasil terbaik dan mana yang tidak.

Apakah Bisnis Anda Sudah Dilengkapi Website yang Baik?

Dengan semua kelebihan di atas, tentunya memiliki sebuah website adalah sebuah keputusan yang sangat worth it. Apalagi jika sebagian besar transaksi bisnis Anda sebagian besar didapatkan dengan mengandalkan digital marketing. Dengan adanya website, maka potensi dari strategi pemasaran Anda bisa lebih lengkap dan terarah.

Bagaimana Cara Mengendalikan Biaya Akuisisi Dalam Digital Marketing

Bagaimana Cara Mengendalikan Biaya Akuisisi Dalam Digital Marketing

Biaya akuisisi merupakan salah satu metrik penting dalam strategi pemasaran digital Anda. Biaya akuisisi menentukan seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk setiap satu customer yang didapatkan. Bagaimana cara mengoptimalkannya?

Setiap perusahaan yang menggunakan strategi pemasaran berbayar atau paid marketing, tentu harus memahami berapa nilai biaya akuisisi tertinggi yang bisa mereka toleransi per customer. Mengapa? Sebab biaya akuisisi menentukan berapa nominal yang perlu dibayarkan untuk setiap satu prospek yang menjadi pelanggan Anda.

Metrik ini bisa dibilang sangat krusial. Apabila biaya akuisisi ini terlalu tinggi, maka ada kemungkinan Anda tidak mendapatkan profit sama sekali dari iklan yang ditayangkan.

Biaya Akuisisi dan Hubungannya dengan Customer Lifetime Value

Biaya akuisisi (atau biasa disebut sebagai CAC (Customer Acquisition Cost)) memiliki hubungan yang erat dengan Customer Lifetime Value atau LTV. LTV adalah metrik yang berfungsi untuk mengukur berapa nilai yang diberikan oleh setiap customer mulai dari dia bertransaksi pertama kali, sampai selesai.

Misalnya jika rata-rata customer Anda berlangganan layanan selama 3 bulan dengan biaya langganan sekitar 200.000 Rupiah, maka nilai LTV rata-rata anda adalah 600.000 Rupiah per customer.

Dengan memahami rata-rata LTV, maka Anda bisa menentukan nilai biaya akuisisi yang paling masuk akal. Dalam kasus tadi, anggap margin keuntungan yang didapatkan adalah 40% dari LTV rata-rata (sekitar 240.000 Rupiah), maka total biaya akuisisi dari iklan Anda tidak boleh melebihi dari nilai tersebut.

Kapan Waktu yang Tepat dalam Menggunakan Metric Biaya Akuisisi?

Banyak perusahaan menggunakan metrik ini untuk mengukur keberhasilan mereka, dan memang metrik biaya akuisisi adalah metrik yang paling populer dalam dunia performance marketing. Sayangnya tidak semua kanal pemasaran cocok dihitung dengan metrik ini!

Contohnya seperti SEO (Search Engine Optimization) dimana tidak ada definisi biaya pemasaran yang pasti. Jika Anda menggunakan metrik biaya akuisisi, maka ada kemungkinan perhitungan Anda menjadi kabur dan tidak tepat.

Dan juga tidak semua strategi marketing berbayar harus mendapatkan biaya akuisisi serendah-rendahnya. Contoh saja, mana yang lebih baik antara CAC 100.000 dan LTV 2.000.000 dengan CAC 300.000 dan LTV 2.500.000; Sebab margin keuntungannya lebih tinggi CAC 300.000.

3 Cara Mengendalikan Biaya Akuisisi Digital Marketing

Mengoptimalkan Funneling dan Marketing Organik

Funneling adalah sebuah konsep strategi dimana perusahaan melakukan segmentasi terhadap kategori calon prospek mereka. Umumnya, funnel prospek dibagi menjadi 3: Awareness, Consideration, dan Decision dimana kebutuhan calon prospek bisa berbeda di setiap tahapnya.

Baca juga: Tutorial Digital Marketing: Mengenal User Journey

Funneling yang tepat bisa mengurangi biaya akuisisi yang tidak perlu. Misalnya ketika Anda ingin menjangkau mereka yang masih baru terhadap kategori bisnis Anda dan masih belum memiliki intensional untuk melakukan transaksi, maka Anda bisa menggunakan pendekatan  SEO dimana SEO tidak menggunakan biaya di muka.

Dan ketika mereka sudah cukup familiar, barulah saat itu Anda jangkau dengan paid marketing. Secara otomatis budget hanya terpakai untuk calon prospek yang lebih mudah closing dan biaya akuisisi bisa ditekan.

Mengimplementasikan Strategi CRO (Conversion Rate Optimization)

Mendapatkan konversi sebesar-besarnya adalah goal dari semua jenis marketing, apapun yang Anda gunakan. Tapi faktanya seringkali perusahaan lupa jika website atau akun sosial media yang digunakan, tidak dioptimalkan untuk mendapatkan konversi.

Absennya CTA (Click To Action) atau memberikan penawaran yang kurang relevan menjadi alasan mengapa rasio konversi (conversion rate) bisnis Anda menjadi rendah. Padahal bisa saja Anda mendapat transaksi yang jauh lebih besar dengan nilai budget yang sama.

Karena itulah muncul strategi CRO atau Conversion Rate Optimization. Strategi ini membahas khusus tentang bagaimana meningkatkan rasio konversi yang sekarang terjadi, dan tentu saja ini berhubungan langsung dengan biaya akuisisi.

Baca juga: Mengenal Strategi Conversion Rate Optimization (CRO), Bagaimana Cara Memanfaatkannya?

Anggap saja Anda biasa mendapatkan rasio konversi sebesar 7% dari kampanye yang saat ini Anda jalankan dengan biaya sekitar 1.400.000 Rupiah. Jika Anda biasa mendapatkan 1.000 pengunjung setiap harinya, Anda hanya mendapatkan 70 konversi saja dan artinya biaya konversi Anda adalah 1.400.000/70 = 20.000 per prospek.

Namun jika Anda bisa meningkatkan rasio konversi tadi menjadi 10%, maka Anda akan mendapatkan sekitar 100 prospek, dimana biaya akuisisi bisa turun drastis ke angka 14.000 per prospek.

Menyeimbangkan Iklan Jangka Pendek dan Branding

Ada iklan jangka panjang dan ada iklan jangka pendek. Anda tentu tidak bisa menggunakan metrik yang sama antara kedua jenis iklan tersebut, karena segmen yang ditarget pun juga berbeda.

Iklan jangka panjang lebih terfokus pada penanaman brand di ingatan masyarakat. Dimana penggunaan CAC tentu tidak relevan, karena bisa saja calon prospek baru melakukan konversi di suatu titik ketika ia membutuhkannya.

Dan karena itu perlu diseimbangkan antara iklan jangka panjang anda (branding) dengan jangka pendek. Sehingga ketika iklan Anda menjangkau mereka yang selama ini terpapar iklan branding, bisa lebih cepat terkonversi dan secara otomatis membantu mengendalikan biaya akuisisi.

Sekarang, Bagaimana dengan Perhitungan Biaya Akuisisi Anda?

Anda sudah mendapatkan informasi baru tentang bagaimana memanfaatkan dan mengendalikan biaya akuisisi untuk strategi iklan. Sekarang waktunya Anda menghitung dan mengoptimasi biaya akuisisi Anda sendiri. Gunakan metrik ini untuk melakukan scaling up bisnis dan dapatkan pelanggan sebanyak mungkin dengan hasil seminim mungkin.

Temukan solusi seputar biaya akuisisi lebih lanjut di layanan konsultasi digital marketing dan transformasi digital untuk bisnis kami.

Mengenal MMP (Mobile Measurement Partner) dan Fungsinya Bagi Pengguna Digital Marketing

Mengenal MMP (Mobile Measurement Partner) dan Fungsinya Bagi Pengguna Digital Marketing

MMP atau Mobile Measurement Partner merupakan tools yang berguna untuk merekam dan mendapatkan data aktivitas pengguna di aplikasi. Bagaimana MMP bisa membantu anda dalam melakukan scaling promosi?

Anda berencana membuat aplikasi untuk mengembangkan usaha anda ke ranah yang lebih jauh? Bagus! Tapi pertanyaannya bagaimana cara Anda mengetahui bahwa aplikasi Anda memberikan dampak bagi perkembangan bisnis?

Apalagi jika kedepannya Anda berencana untuk menggunakan ads dalam mempromosikan aplikasi kepada calon audience. Bagaimana cara mendapatkan data-data dari semua ini? Mengingat tanpa data, Anda tidak bisa tahu bagaimana dampak dari aplikasi terhadap pertumbuhan pelanggan dan bisnis.

Apa Itu MMP (Mobile Measurement Partner)?

MMP merupakan singkatan dari Mobile Measurement Partner. Pada dasarnya, cara kerja MMP tidak berbeda dengan aplikasi analytics pada umumnya. Cara kerjanya juga hampir sama dan hanya perlu menginstall kode SDK (Software Development Kit) ke dalam aplikasi untuk mulai menggunakan. Ini hampir sama seperti software analytics pada website.

Bedanya, MMP bisa diintegrasikan dengan banyak platform sekaligus tanpa perlu menambahkan tag/kode baru. Data dari MMP bisa dengan mudah dilanjutkan ke platform digital yang Anda gunakan (seperti Google Ads atau Facebook Ads). Tidak seperti aplikasi analytics di web, yang perlu diimplementasikan masing-masing.

Contoh MMP yang Populer

Ada banyak sekali vendor MMP di lapangan, dan sebagian besar menggunakan sistem freemium (gratis tapi bayar). Dalam memilih MMP, pastikan Anda memahami fitur-fitur apa saja yang didapatkan terutama integrasi dengan platform periklanan. Mengingat tidak semua MMP dilengkapi fitur yang sama.

Untuk lebih jelasnya, berikut 3 jenis MMP yang sering digunakan di dunia aplikasi:

AppFlyer

Merupakan salah satu MMP terpopuler yang ada di dunia, dan banyak digunakan di Indonesia. AppFlyer dilengkapi dengan fitur-fitur wajib yang ada di MMP seperti reporting, integrasi dengan ads, fingerprinting, dan sebagainya. Anda bisa memilih pricing plan yang sesuai dengan rasio pertumbuhan bisnis anda.

Adjust

Hampir sama seperti AppsFlyer, dan cukup populer juga digunakan di Indonesia. Fiturnya tidak jauh berbeda dengan aplikasi MMP lainnya.

Google Firebase (GA4)

Google Firebase (sekarang GA4) merupakan salah satu MMP yang memiliki kemampuan untuk melacak aktivitas web to app yang dikeluarkan oleh Google. Anda bisa memasukkan 2 sumber data baik aplikasi (iOS dan Android) dan website.

Fitur ini sangat penting, terutama jika Anda menggunakan landing page untuk mengiklankan aplikasi. Firebase bisa menampilkan asal pengunjung yang masuk ke aplikasi melalui website dengan memanfaatkan cookie yang tercatat di dalam ponsel pengguna.

Baca juga: Mengintip Berbagai Tantangan Baru di Era Revolusi Industri 4.0

Fungsi MMP Untuk Perkembangan Bisnis

Membuat aplikasi tanpa berinvestasi di MMP sama saja bunuh diri. Untuk apa membuat aplikasi tanpa tahu dampaknya ke bisnis? Data-data konversi yang dihasilkan dari dalam aplikasi juga tidak bisa terbaca oleh Anda.

Agar Anda lebih memahami bagaimana fungsi MMP, silahkan simak beberapa contohnya di bawah ini:

Mendapatkan Data Aktivitas Pengguna App

Setiap user yang menggunakan aplikasi pasti melakukan aktivitas tertentu. Entah melakukan pendaftaran, masuk ke menu yang disediakan, atau langsung uninstall karena tidak sesuai ekspektasinya.

Agar pengembangan dan strategi aplikasi Anda lebih terarah, Anda harus paham bagaimana pengguna mengambil tindakan ke aplikasi Anda. Dengan begitu Anda tahu mana bagian yang harus dikembangkan dan mana yang tidak perlu.

Memberikan Atribusi Pada Strategi Digital Marketing

Sumber dari instal yang terjadi di aplikasi Anda bisa berasal dari berbagai sumber. Entah itu iklan, referensi, atau dari website Anda sendiri. Pertanyaannya, bagaimana caranya Anda bisa mendapatkan informasi itu?

MMP bisa membantu Anda memahami darimana asal install datang, dan kemudian memberikan atribusi (poin) kepada sumber yang paling berpengaruh. Tentunya ini bisa membantu dalam mengoptimalkan strategi pemasaran di masa mendatang.

Mendeteksi Sumber Traffic

Seperti layaknya sebuah website, aplikasi juga bisa menerima traffic (lalu lintas) pengguna keluar dan masuk. MMP bisa membantu para pemilik aplikasi untuk memahami darimana traffic mereka berasal, bahkan jika si pengguna melakukannya dari perangkat yang berbeda (misalnya dari komputer ke ponsel).

Remarketing Campaign

Jika Anda memiliki tujuan tersendiri (misalnya meningkatkan penjualan dari aplikasi), maka Anda wajib menggunakan MMP untuk mendefinisikan audience pengguna aplikasi Anda yang kemudian Anda targetkan kembali untuk mendapatkan audience yang lebih solid.

Remarketing sangatlah penting jika Anda ingin mempromosikan sesuatu kepada mereka yang masuk ke dalam kriteria.

Baca Juga: 5 Skill Yang Wajib Anda Pelajari di Kelas Digital Marketing

Apakah Anda Sudah Menggunakan MMP Untuk Strategi Pemasaran Aplikasi Anda?

Sekarang apakah Anda sudah memanfaatkan teknologi MMP dalam pengembangan aplikasi perusahaan? Anda tentu tidak diwajibkan untuk menggunakan MMP dengan biaya mahal. Cukup pilih yang sesuai dengan perusahaan, dan yang terpenting adalah bisa mendapatkan data yang dibutuhkan untuk pengembangan aplikasi lebih lanjut.

Mengenal 4 Scope Data Utama di Dalam Google Analytics

Mengenal 4 Scope Data Utama di Dalam Google Analytics

Google Analytics mengolah data berdasarkan scope tertentu, bagaimana prosesnya dan cara tepat membacanya?

Jika anda adalah seorang digital marketing yang aktif mencari dan menganalisa data dari pengguna anda, maka anda tentu tidak asing dengan aplikasi Google Analytics. Dengan Google Analytics, anda bisa mendapatkan ribuan data yang bernilai tentang aktivitas dari pengunjung anda di dalam website.

Hanya saja karena ke-kompleks-an data yang ada di Google Analytics, aplikasi pun membuat sistem kategorisasi data yang kompleks juga. Terkadang hal ini tidak dipelajari oleh digital marketer, sehingga data yang mereka ambil terkadang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Scope Data Google Analytics

Google Analytics bekerja dengan struktur scope yang ditentukan. Ini artinya ada cakupan tertentu dari setiap data yang diambil, mengingat kompleksnya data yang berlalu lalang di internet. Google Analytics sendiri membagi scope datanya menjadi 4 scope, dimana setiap scope memiliki tampungan data masing-masing.

Scope ini berfungsi untuk mendefinisikan data-data tadi agar tidak saling tumpang tindih, dan bisa digunakan sebagai identifikasi pengguna tanpa melanggar privasi mereka. Untuk lebih jelasnya, berikut 4 jenis scope yang ada di dalam Google Analytics:

User Scope

Data ini diambil untuk identifikasi user secara individu. Berguna untuk membedakan satu pengunjung dengan pengunjung lainnya, serta berguna untuk menentukan jumlah pengguna yang masuk ke dalam situs.

Session Scope

Session scope berisi data-data dari session yang dimulai oleh user. Setiap user selalu akan memulai sesi tertentu di dalam website, dan Google Analytics membatasi sesi tersebut dengan waktu (maks 30 menit atau sesuai pengaturan pengguna) dan tindakan (jika user melakukan exit/close dari situs).

User bisa memiliki lebih dari satu sesi, bergantung dari lamanya dia mengunjungi situs.

Hit Scope

Scope ini berisi aktivitas dari setiap session yang terjadi. Setiap sesi selalu mengandung beberapa aktivitas yang dilakukan, misalnya mengunjungi halaman tertentu atau mengklik tombol tertentu.

Baca Juga: Fitur Baru Google Analytics 4 (GA4), Apa Saja Kelebihannya?

Product Scope (special)

Terakhir adalah product scope yang dibuat special untuk e-commerce. Setiap interaksi hit yang terjadi selalu ada informasi product yang ikut serta. Misalnya ketika user mengklik “buy” atau “Checkout”, maka data produk yang masuk ke dalam aktivitas itu akan direkam di laporan product scope.

Scope Dimensi vs Scope Metrik

Dari keempat scope diatas, mereka akan dibagi lagi ke dalam masing-masing dimensi dan metrik. Misalnya untuk dimensi Landing Page (halaman yang pertama kali diakses oleh user saat memulai session) cocok jika disandingkan dengan metrik Bounce Rate (berapa sesi yang tidak ada interaksinya).

Perlu diketahui bahwa scope bekerja secara hierarki mulai dari user, session, hit, dan product secara berurutan. Karena adanya hierarki ini, maka anda tidak bisa memasangkan data tanpa mempertimbangkan scope-nya.

Dimensi dan metrik hanya akan bekerja sesuai ekspektasi dengan sempurna jika berada di scope yang sama. Jika ada perbedaan scope, maka akan ada 2 konsekuensi:

  • Tidak ada data yang ditampilkan alias error
  • Data yang ditampilkan tidak sesuai ekspektasi

Kesalahan Utama Digital Marketer Pemula: Salah Kombinasi Scope

Misalnya ketika anda menggunakan dimensi yang dihitung dari scope session, seperti landing page atau source/medium, lalu anda kombinasikan dengan metrik yang tidak seharusnya seperti Total Event yang merupakan Hit Scope. Maka data yang tampil tidak akan sesuai dengan keinginan anda. Resikonya anda bisa mendapatkan informasi yang kurang akurat.

Jadi, pelajari scope masing-masing dari setiap data yang ada. Terutama jika anda adalah pengguna Data Studio, maka anda wajib memahami bagaimana data di Google Analytics diproses. Jika tidak, anda bisa menemui masalah dimana data yang anda inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Masih bingung cara menggunakan Google Analytics yang paling tepat? Temukan materinya di dalam kursus digital marketing kami, dan mulai belajar digital marketing dengan studi kasus nyata.