fbpx
Bagaimana Teknologi AI Dapat Membantu Dunia Pendidikan

Bagaimana Teknologi AI Dapat Membantu Dunia Pendidikan

Tak hanya membantu bisnis dan perusahaan saja, AI juga bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Teknologi AI bisa membantu kesesuaian pembelajaran antara guru dan murid, kira-kira bagaimana caranya?

AI atau artificial intelligence atau biasa disebut kecerdasan buatan merupakan teknologi dimana mesin bisa belajar dan memahami logika seperti layaknya manusia. Teknologi ini disebut-sebut bisa membantu menyederhanakan kehidupan manusia yang sangat kompleks.

Teknologi AI dikenal luas dalam dunia industri, terutama industri skala besar yang memiliki banyak divisi. AI bisa membantu mengintegrasikan semua divisi tersebut dan mempermudah proses kerja antar divisi. AI pun juga dikenal dalam dunia bisnis seperti periklanan maupun SaaS (Software as a Service).

Tapi tahukah Anda bahwa AI juga bisa diimplementasikan dalam dunia pendidikan? Berkat AI, guru bisa memahami kebutuhan murid dengan lebih mudah dan lebih mendalam. Dan murid pun bisa belajar sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa menemui kesulitan.

Teknologi AI Untuk Pendidikan

Anda tentu sudah tahu bahwa AI bekerja berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari pengalaman sebelumnya. Dalam sisi pendidikan murid misalnya, AI bisa menganalisa kesalahan dari soal yang dikerjakan murid atau melihat histori nilai si murid dalam kurun waktu tertentu.

Nah berangkat dari sana saja kita sudah tahu bagaimana peluang AI dalam membantu sistem pendidikan kita. Apalagi untuk sekolah yang memiliki banyak murid sekaligus, memantau murid satu per satu tentu bukan perkara yang mudah.

Teknologi Smart Content Untuk Menyesuaikan Kebutuhan Murid

Sekolah adalah tempat yang dipenuhi teori-teori rumit yang belum tentu bisa dipahami dengan mudah oleh semua murid. Mungkin ada murid yang cukup pintar di bidang tersebut, dan tentunya ada yang tidak.

AI bisa membantu meracik konten yang sesuai dengan keahlian murid tersebut, sehingga pelajaran tetap bisa dipahami oleh mereka. 

Konten yang lebih mudah dipahami tentunya akan mempersingkat waktu pembelajaran. Tidak menutup kemungkinan juga semua murid menjadi memiliki kecepatan belajar yang sama dengan metode pembelajaran ini.

Konten yang Dipersonalisasikan Kepada Kemampuan Murid

Ada murid yang jago matematika dan ada murid yang jago seni. Ada juga murid yang jago di bidang lain selain dua yang sudah disebutkan tadi. AI bisa membantu tenaga pengajar untuk memberikan materi pembelajaran yang sudah disesuaikan dengan keahlian mereka.

Ini membuat murid bisa fokus mempertajam keahlian mereka tanpa membebani tenaga pengajar. Di teknologi AI yang lebih maju, tidak menutup kemungkinan penyampaian materi bisa disesuaikan dengan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh murid.

Baca juga: 3 Tantangan Bisnis Dalam Mengadopsi AI, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Pengajaran Dinamis dan Interaktif

Dengan menganalisa hasil pengajaran dan dicocokan dengan nilai yang didapatkan oleh murid, AI bisa menawarkan solusi feedback kepada para pengajar dan menciptakan kondisi pengajaran yang kaya evaluasi.

Sistem pengajaran konvensional umumnya hanya berjalan satu arah, dari guru ke murid. Dengan teknologi AI, sistem pengajaran bisa dirubah menjadi dua arah. Dimana AI bisa memberikan saran dan rekomendasi berdasarkan data yang ia dapatkan.

Otomasi Penilaian dan Soal Latihan

Membuat soal memang menjadi masalah sendiri dalam dunia pengajaran. Soal yang terlalu mudah tidak akan bisa mengukur kemampuan murid dengan tepat, sedangkan soal yang terlalu sulit juga akan mempersulit pemahaman murid akan pelajaran yang diberikan.

Karena itu AI memberikan solusi dalam memberikan rekomendasi soal. Apalagi dengan adanya data pengajaran yang sudah dikumpulkan sebelumnya, AI bisa memprediksi bagaimana kualitas soal yang seharusnya dibuat untuk murid.

Dan terakhir, AI juga bisa membantu penilaian yang akan dilakukan setelah ujian. Karena penilaian yang hanya diambil dari 1 kali ujian saja tidak fair untuk mengukur kemampuan murid, AI umumnya juga mampu memberikan analisa kemampuan murid mulai dari mereka belajar pertama kali sampai selesai ujian.

Baca juga: 6 Kegagalan Utama Industri Manufaktur, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Menarik Bukan Dunia AI?

Anda sudah melihat bahwa implementasi teknologi AI tidak hanya terbatas pada bisnis dan industri saja. AI bisa membantu sampai ke titik terkecil kehidupan, dan pendidikan adalah salah satunya. Iya dong, siapa yang tidak butuh pendidikan?

Jadi, apakah Anda sudah siap menghadapi kehidupan bersama AI?

3 Tantangan Bisnis Dalam Mengadposi AI, Bagaimana Cara Mengatasinya

3 Tantangan Bisnis Dalam Mengadopsi AI, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tertarik mengaplikasikan AI (Artificial Intelligence) ke dalam bisnis? Itu rencana yang sangat bagus! Tapi tahukah Anda bahwa implementasi AI tidak lepas dari tantangan yang mengintai?

Kecerdasan buatan (AI – artificial intelligence) merupakan salah satu inovasi teknologi yang disebut-sebut bakal menjadi primadona dalam bisnis, setidaknya dalam jangka waktu dekat ini. Teknologi AI ini berguna untuk memangkas biaya sumber daya tenaga yang dibutuhkan perusahaan, mengingat AI dijalankan oleh mesin.

Teknologi AI bisa sangat mempengaruhi operasional perusahaan Anda dalam skala besar. Anda bisa membayangkan, pekerjaan-pekerjaan yang dulunya ditangani dan dipelajari manual oleh manusia sekarang bisa dipelajari oleh mesin.Dengan mengimplementasikan AI, maka Anda bisa menghemat biaya operasional dan training sekaligus. AI tidak membutuhkan training ulang dan memanfaatkan sistem machine learning berdasarkan data sebelumnya. Sehingga performa AI akan selalu meningkat seiring berjalannya waktu.

Landskap Adopsi AI di Masa Depan dan Tantangan yang Mengintai

Berdasarkan survey yang diadakan oleh CIO Survey pada tahun 2019, ada sekitar 94% perusahaan yang tertarik menggunakan AI pada bisnis mereka pada tahun 2022. Selain itu ada 35% perusahaan yang sudah memulai menggunakan AI pada tahun 2020 kemarin. Ini membuktikan bahwa kualitas AI bukanlah kualitas kaleng-kaleng.

Baca juga: Mencegah Pemborosan Dengan Penerapan Lean Manufacturing

Namun tentu saja yang namanya teknologi baru, selalu ada tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin menggunakannya pertama kali. CIO Survey ternyata juga menemukan 3 tantangan utama dalam implementasi AI, yaitu:

Kurangnya Talenta Untuk Mengoperasikan AI

Lho, bukannya AI dioperasikan oleh mesin? Memang benar, tapi siapa yang melakukan konfigurasi pertama kali? Lalu siapa yang akan memprogram AI tersebut? Tentu saja tetap manusia yang akan melakukannya.

Nah pertanyaannya sekarang, apakah semua pekerja sudah dilengkapi pengetahuan akan pengoperasian AI? Bagaimana cara mengambil dan membaca datanya, bagaimana melakukan tindak lanjut dari rekomendasi yang diberikan, sampai menggunakan fitur ai sampai yang termutakhir.

Dan sayangnya memang pelatihan pekerja untuk memahami AI dari nol bukanlah masalah yang mudah. Masalah ini biasanya bisa diatasi dengan membayar konsultan, namun itu artinya Anda juga harus rela merogoh kocek yang lebih dalam lagi.

Tidak Adanya Data Untuk Implementasi AI, atau Tidak Memiliki Sumber Data yang Memadai

Seperti yang sudah disebutkan AI bekerja berdasarkan data yang diberikan. Sekarang apakah sumber datanya sudah ada? Jika hanya satu sistem saja yang menggunakan AI, sedangkan yang lainnya tidak maka sama saja bohong.

Sebab AI akan lebih berguna jika diimplementasikan ke semua sistem di dalam industri, sehingga AI bisa memberikan analisa yang lebih komprehensif tentang perusahaan Anda dan memberikan rekomendasi dan otomasi terbaik.

Ketidakpahaman Tentang Manfaat dan Implementasi AI

Ini adalah masalah yang paling klasik. Banyak perusahaan ikut-ikut dalam gelombang hype akan teknologi terbarukan, tanpa mengetahui apa manfaat dari teknologi tersebut. Biasanya berakhir pada pemborosan saja, dimana teknologi yang sudah diinvestasikan tidak digunakan sama sekali.

Karena itu sebelum mengimplementasikan suatu teknologi, ada baiknya lakukan riset terlebih dahulu. Cari tahu bagaimana studi kasus yang melibatkan teknologi tersebut beserta dengan hasil yang didapatkan.

Baca juga: Mengenal 5 Tipe Software CRM dan Kegunaannya

Selangkah Lebih Maju dengan Teknologi AI

Apapun tantangan yang akan dihadapi, teknologi AI tetap worth it untuk digunakan dalam bisnis terutama bisnis skala besar yang memiliki kompleksitas operasional yang tinggi. Penghematan energi, sumber daya, dan waktu menjadi alasan utama mengapa teknologi AI banyak dilirik meskipun penggunaannya yang mungkin tidak mudah bagi semua orang.

Dan bagi Anda yang tertarik dengan teknologi AI namun masih menemui masalah di atas, Sasana Digital memberikan solusi transformasi digital yang dapat diandalkan. Kami akan membantu implementasi AI di dalam bisnis Anda, terutama di divisi yang krusial tanpa repot!

6 Kegagalan Utama Industri Manufaktur, Bagaimana Cara Mencegahnya

6 Kegagalan Utama Industri Manufaktur, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Di dalam dunia manufaktur, ada 6 jenis kegagalan utama yang mengancam eksistensi keberadaan industri. Kenali dan cari tahu bagaimana cara mencegah dan menghadapi keenamnya.

Industri manufaktur memiliki kompleksitas yang cukup rumit, dan tentunya tidak bisa diselesaikan oleh sembarang orang dengan sembarang metode. Karena itu potensi kerugian yang mengancam juga cukup banyak dan perlu diberi perhatian khusus.

Secara garis besar, ada 6 jenis kegagalan utama yang menyebabkan kerugian dalam industri manufaktur. Bila tidak dicegah atau ditangani dengan baik, maka keenam masalah ini bisa menimbulkan masalah serius dan bisa menghancurkan bisnis dalam jangka panjang.

Waktu Henti Mesin yang Direncanakan (Planned Downtime)

Mau karena maintenance atau apapun, mesin yang berhenti dan tidak bisa berproduksi adalah suatu potensi kerugian yang cukup besar dalam industri manufaktur.

Anggap saja Anda bisa memproduksi 10 barang dalam waktu 1 jam, dan Anda memiliki 10 mesin di dalam industri Anda. Jika kesepuluh mesin tersebut harus berhenti beroperasi karena penjadwalan perawatan selama 2 jam, maka Anda kehilangan potensi produksi sebesar 200 barang!

Dan jika jadwalnya dilakukan setiap minggu sekali, maka total kerugian Anda mencapai 800 barang setiap bulannya.

Waktu Henti Mesin yang Tidak Direncanakan (Unplanned Downtime)

Jika yang direncanakan saja menyebabkan kerugian, apalagi yang tidak direncanakan. Kegagalan operasional apapun yang menyebabkan berhentinya proses produksi tentu akan mengakibatkan kerugian bagi industri.

Pada umumnya kasus unplanned downtime bisa diatasi dengan melakukan penjadwalan maintenance berkala. Namun, tanpa proses pemeriksaan yang ketat dan super teliti, selalu akan ada kemungkinan teknisi lalai memeriksa satu bagian di dalam mesin. Inilah yang kemudian bisa mengakibatkan mesin berhenti beroperasi secara tiba-tiba.

Karena itu, kehadiran perangkat IoT yang bisa mendeteksi dan mempelajari pola kerusakan mesin sangat diperlukan.

Kegagalan Mesin Temporer (Minor Stop)

Terkadang mesin bisa terganggu hanya karena kesalahan kecil. Misalnya ada komponen yang terlepas tiba-tiba atau karena akibat dari kelalaian proses maintenance. Berapapun durasi kegagalan mesin, tetap saja akan ada kerugian yang ditimbulkan.

Selain itu biasanya teknisi akan menemui kesulitan untuk mengetahui kesalahan dalam mesin dengan cepat. Bisa saja teknisi harus merombak total mesin meskipun ternyata kesalahannya sangat sepele.

Kembali lagi, masalah ini bisa diatasi dengan software ERP system yang bisa mencari tahu dan menginformasikan teknisi perihal potensi kegagalan operasional mesin setiap waktunya. Tanpa perlu dijadwalkan.

Baca juga: Sukses Menghadapi Era Transformasi Digital Dengan Konsep 5C

Kerugian Karena Penurunan Kecepatan (Speed Loss)

Efisiensi operasional bisa saja menurun karena beberapa alasan, terutama untuk industri yang masih mengandalkan tenaga konvensional. Kecepatan nyata bisa lebih rendah dari kecepatan yang diprediksi sebelumnya.

Software ERP kembali bisa menawarkan pencegahan dan solusi dari masalah ini. Seperti yang sudah kita ketahui, ERP bisa memprediksi kemampuan mesin dan menghitung volume produksi secara real time. Apabila ada kesalahan yang terdeteksi, maka ERP akan memberitahukan seluruh divisi terkait untuk segera melakukan pembenahan.

Rugi Pengerjaan Ulang (Rework Loss)

Terkadang mesin pun bisa melakukan kesalahan, namun masih bisa diperbaiki dengan cara pengerjaan ulang (rework).

Proses pengerjaan ulang tentu memakan sumber daya yang ada. Sumber daya baik waktu maupun bahan baku yang seharusnya bisa digunakan untuk memproduksi produk lain, malah harus dipakai untuk mengerjakan produk yang seharusnya sudah selesai.

Rugi Barang Cacat (Reject Loss)

Dari kerusakan sebelumnya, tentu akan ada kemungkinan barang tidak bisa diperbaiki sama sekali dan tidak bisa dilepas ke pasar. Ini merupakan salah satu kerugian total dari industri yang bisa berdampak pada cashflow, karena bahan baku yang sudah dibeli tidak bisa dikonversi menjadi pemasukan.

Baca juga: Mengenal Konsep Lean Management Dalam Industri Manufaktur

IoT (Internet Of Things), Solusi dari 6 Masalah Utama Industri Manufaktur

Ternyata hanya menggunakan ERP saja tidak cukup! Penggunaan ERP tanpa diikuti dengan mesin yang mendukung IoT juga akan mengurangi efektivitas ERP tersebut. Sebab data yang didapatkan oleh ERP bisa saja sudah kadaluarsa.

IoT bisa memberikan update data secara otomatis dan mensinergikan data-data yang dimiliki oleh perusahaan secara real time. Jadi mengapa Anda tidak segera bermigrasi ke teknologi smart industry dan meninggalkan konsep industri yang lama?

Hubungi solusi dan konsultasi transformasi digital kami untuk informasi bantuan implementasi transformasi digital pada industri manufaktur yang kami sediakan.

5 Teknik Legal dan Akurat Untuk Memahami Strategi Kompetitor Anda

5 Teknik Legal dan Akurat Untuk Memahami Strategi Kompetitor Anda

Berencana untuk memata-matai kompetitor? Cari tahu bagaimana teknik mata-mata kompetitor yang legal di sini! Dijamin ampuh

Dalam menjalankan strategi pengembangan perusahaan, melakukan riset terhadap strategi existing kompetitor memang sudah hal yang wajib. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa strategi kompetitor tidak bertabrakan dengan strategi kampanye Anda.

Bayangkan saja kalau Anda berencana mengeksekusi strategi diskon 30% dan ternyata kompetitor Anda sedang mengadakan diskon 50%, maka strategi Anda tadi tidak akan berguna.

Nah sayangnya memata-matai kompetitor bukanlah hal yang mudah. Anda tidak mungkin meletakkan pekerja Anda sebagai mata-mata di perusahaan kompetitor bukan? Atau datang ke kantor mereka lalu masuk-masuk ke ruangan marketing juga tidaklah mungkin. Bagaimana cara legal dan tepat untuk memantau kompetitor secara diam-diam?

Facebook Ad Library

Jika Anda berencana menggunakan Facebook dan Instagram Ads dalam strategi pemasaran berikutnya, maka Anda bisa menggunakan Facebook Ads Library untuk mengetahui jenis iklan yang digunakan oleh kompetitor saat ini.

Facebook Ad Library sendiri merupakan tool resmi dan gratis dari Facebook yang memang digunakan untuk melihat daftar iklan yang sedang dijalankan oleh akun-akun terdaftar. Fungsi aslinya adalah untuk memberikan informasi dunia iklan Facebook secara transparan pada masyarakat luas.

Anda bisa memasukan username dari akun kompetitor Anda dan semua iklan yang mereka jalankan akan langsung terlihat. Mulai dari penempatan, creatives, caption, sampai jenis CTA yang digunakan.

Perlu diketahui bahwa Facebook Ad Library hanya bisa mengecek iklan yang sedang aktif. Anda tidak bisa melihat iklan yang sudah dimatikan atau iklan yang akan dijadwalkan. Sehingga disarankan untuk mengecek secara berkala.

Baca juga: 5 Kursus Digital Marketing Gratis yang Bisa Anda Pelajari Untuk Pemula

Cek Ranking SEO Mereka

SEO merupakan salah satu strategi organik yang mengandalkan mesin pencari sebagai sumber utamanya. Dan karena bisa diakses oleh semua orang, maka Anda pun bisa memantau bagaimana posisi website kompetitor terhadap keyword yang akan Anda bidik secara legal.

Anda bisa menggunakan tools pihak ketiga seperti SEMRush, WhatsMySERP, atau sejenisnya. Semua tools itu akan membantu Anda untuk memantau posisi domain website kompetitor secara berkala, tanpa memberi tahu mereka alias diam-diam. Dan tentu saja, setelah itu Anda bisa mengeksekusi strategi SEO pamungkas Anda setelah memahami apa yang dilakukan oleh kompetitor.

Namun terkadang hasil pencarian dari satu perangkat dengan perangkat lain bisa berbeda karena adanya personalized result dari Google.

Follow Sosial Medianya dan Pantau Kontennya

Sosial media juga merupakan ruang publik yang bisa diakses oleh banyak orang, dan karena itu sosial media menjadi salah satu channel strategi pemasaran yang sangat efektif.

Anda bisa mengikuti akun yang dikelola oleh kompetitor lalu menganalisa kegiatan yang mereka lakukan setiap harinya. Mulai dari konten, hashtag, atau influencer yang mereka pilih untuk mendapatkan jangkauan.

Setelah Anda mengetahuinya, Anda bisa melakukan strategi komplementer yaitu dengan melengkapi kekurangan yang ada dari akun kompetitor Anda. Ini adalah strategi yang paling umum, dan biasanya akan saling berbalas-balasan di kemudian hari.

Cek Sumber Backlink Mereka

Masih berhubungan dengan strategi SEO, Anda juga bisa menemukan daftar tempat backlink (link referensi) ditanam dengan bantuan tools pihak ketiga seperti ahrefs atau SEMRush. Dengan begitu, Anda bisa tahu bagaimana profil backlink yang ditanamkan oleh kompetitor Anda.

Selanjutnya tentu saja Anda bisa ikut menanamkan di lokasi yang sama. Ingat Anda tidak harus terpaku pada kompetitor saja, namun bisa juga menganalisa website lain yang tidak ada hubungannya dengan bisnis Anda untuk mendapatkan informasi backlink yang lebih luas.

Baca juga: Berbagai Kemudahan Bisnis di Era Digital, Mulai Dari Funnel Marketing Hingga Integrasi

Cek Sumber Traffic Melalui SimilarWeb

SimilarWeb merupakan tool digital marketing yang berguna untuk mengintip profil pengunjung dari website yang ada di dunia internet.

Informasinya memang hanya bersifat gambaran umum, namun Anda bisa mendapatkan informasi yang cukup tentang sumber traffic yang dimiliki oleh kompetitor Anda. 

Namun SimilarWeb hanya bisa menganalisa jika website yang ingin Anda ‘intip’ sudah terdaftar di database mereka dan sudah mendapatkan data yang cukup. Jika kompetitor Anda masih belum memiliki jumlah pengunjung yang memadai, maka Anda tidak bisa melakukan strategi ini.

Pantau dan Menangkan Kompetisi Bisnis Anda

Gunakan strategi-strategi di atas untuk mendapatkan pemahaman komprehensif tentang kompetitor Anda. Dengan begitu, Anda bisa mempersiapkan atau menyesuaikan strategi yang lebih matang dan lebih membawakan dampak pada pelanggan, sehingga membuat mereka berpaling pada Anda.

Strategi di atas termasuk dalam strategi digital marketing bagian competitive research. Anda bisa mempelajarinya lebih jauh di dalam training digital marketing yang kami sediakan.

Apa Itu Performance Marketing Dan Apa Saja Tugas Mereka

Apa Itu Performance Marketing dan Apa Saja Tugas Mereka?

Bukan hanya gimmick dan permainan kata saja, Performance Marketing merupakan segmentasi strategi khusus untuk Anda yang mau mengembangkan bisnis lewat internet.

Pernah mendengar istilah Performance Marketing? Bagi orang awam, istilah ini bisa membingungkan karena tidak ada arti yang tersirat secara langsung dari penyebutan jabatan tersebut. Meskipun istilahnya tidak umum, tapi nyatanya peran mereka sangat krusial dalam pertumbuhan perusahaan!

Performance Marketing = Pemasaran Berdasarkan Performa

Jika diartikan secara harafiah, Performance Marketing berarti pemasaran berdasarkan performa. Memangnya performa apa yang akan dinilai dari sebuah strategi pemasaran? Bukannya metrik dalam pemasaran itu tidak bisa dideterminasi secara pasti?

Performance Marketing sebenarnya dikenal luas di dalam dunia digital marketing. Mengingat digital marketing sarat akan data dan metrik pengukur kesuksesan (KPI, Key Performance Indicator). Jadi, Performance Marketing memiliki arti strategi pemasaran dimana Anda, sebagai pengiklan membayar untuk setiap aksi yang terjadi dari iklan yang ditayangkan.

Tugas Performance Marketing adalah mengoptimasi hasil dari metrik-metrik tersebut dengan berbagai metode, cara, atau strategi yang efektif. Jadi,

Apakah Performance Marketing Bisa Disebut Sebagai Ads Juga?

Secara umum jawabannya adalah iya, meskipun faktanya Performance Marketing tidak hanya sebatas pada digital ads saja. Affiliate marketing merupakan salah satu contoh kanal performance marketing yang tidak termasuk dalam digital ads.

Yang jelas, tugas Performance Marketing akan bergantung pada berbagai tools analytics yang berisi data-data pemasaran. Umumnya, Performance Marketing berfokus pada metrik-metrik yang konkrit dan berdampak pada perusahaan secara langsung seperti ROI maupun biaya akuisisi. Namun tidak menutup kemungkinan juga mereka juga menangani metrik yang lainnya.

Contoh Metrik Performance Marketing

Untuk memahami lebih jauh tentang dunia Performance Marketing, tentunya kita juga harus berkenalan dengan beberapa contoh metrik atau data yang akan ditangani oleh mereka. Berikut beberapa di antaranya:

ROAS (Return On Ad Spend)

ROAS merupakan metrik yang paling krusial di dalam digital ads, terutama jika Anda berkecimpung di dunia e-commerce dimana nilai transaksi adalah yang utama. ROAS adalah perbandingan antara biaya iklan dengan hasil transaksi yang didapatkan.

Umumnya ROAS yang baik memiliki nilai di atas 1, atau jumlah nilai transaksi yang didapatkan lebih dari nilai biaya iklan yang dibayarkan. Semakin tinggi ROAS, semakin efektif pula periklanan yang dilakukan.

Baca juga: Dilema Dalam Strategi Marketing Digital: Bagaimana Cara Menghitung Budget

Tidak semua vendor iklan langsung memberikan keleluasaan untuk menggunakan strategi ROAS pada semua pengiklan. Anda biasanya akan diminta memenuhi beberapa persyaratan dulu sebelum memulai.

CPC (Cost Per Click)

Metrik ini akan selalu digunakan apabila Anda sedang mencari traffic sebesar-besarnya. Berbeda dengan ROAS dan CPA, semakin kecil angka CPC maka semakin bagus hasilnya. Mengingat CPC adalah nilai yang Anda bayarkan tiap klik yang terjadi.

Nilai CPC bisa semakin tinggi jika iklan yang ditayangkan memiliki relevansi yang rendah dengan minat audiens.

CPA (Cost Per Acquisition)

CPA adalah indikator biaya iklan terhadap jumlah akuisisi yang didapatkan. Umumnya CPA juga disebut sebagai biaya per konversi, dimana definisi konversi perusahaan bisa saja berbeda.

Nilai CPA yang rendah merupakan tanda bahwa iklan telah ditayangkan ke audiens yang tepat dan di waktu yang tepat pula.

Perlu diingat bahwa nilai CPA sangat dipengaruhi oleh panjangnya funnel yang dibutuhkan oleh calon pelanggan, dari mereka melihat iklan sampai menjadi konversi. Semakin panjang funnelnya, maka semakin tinggi juga nilai CPA-nya.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengendalikan Biaya Akuisisi Dalam Digital Marketing

Misalnya, nilai CPA untuk mendapatkan subscriber tentu akan lebih rendah dibandingkan CPA pengajuan kredit bank. Penghitungan CPA juga harus dilakukan dengan membandingkan nilai CPA tersebut dengan nilai LTV (Lifetime Value). Jika nilainya terlalu kecil, maka Anda bisa kehilangan potensi maksimal dari iklan Anda. Sedangkan jika terlalu besar, maka keuntungan bisa tergerus oleh biaya yang tidak perlu.

CPM (Cost Per Mile)

CPM dihitung dari total biaya dibagi 1.000 tayangan iklan. Sama seperti CPC, nilai CPM akan semakin rendah jika audiens Anda semakin relevan. Nilai CPM umumnya digunakan untuk mengukur berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan audiens.

Tertarik Memanfaatkan Performance Marketing?

Nilai metrik di atas sangat ditentukan oleh pengaturan iklan dan strategi bid yang dilakukan. Anda tidak bisa membidik 2 metrik sekaligus dalam satu waktu, sebab Anda bisa beresiko kehilangan potensi iklan sama sekali dan iklan tak kunjung optimal.

Selalu fokus pada 1 metrik dan gunakan metrik lainnya untuk indikator pendukung saja. Tentukan batas atas dan batas bawah dari metrik yang Anda kejar, dan dapatkan hasil terbesar dari iklan yang Anda tayangkan.

Tertarik mempelajari Performance Marketing lebih lanjut? Ikuti kursus digital marketing Sasana Digital untuk informasi training yang lengkap dan berdasarkan studi kasus nyata.

Perbedaan Menjual Value VS Menjual Product, Mana yang Anda Pilih

Perbedaan Menjual Value VS Menjual Product, Mana yang Anda Pilih?

Sering mendengar nasehat untuk selalu menjual value? Sebenarnya apa bedanya menjual value dengan menjual product?

Sebagai bisnis yang tengah berkembang, Anda tentu ingin mendapatkan pelanggan sebanyak banyaknya dalam waktu sesingkat singkatnya. Di pasar, Anda akan menemukan betapa ganasnya persaingan antar pelaku bisnis. Dan tentunya Anda perlu menentukan strategi yang tepat dalam menghadapi persaingan yang keras itu.

Jika Anda banyak mencari tips bisnis, Anda tentu tidak asing dengan nasehat “Menjual Value”. Sebenarnya apa bedanya menjual value ini dengan metode berjualan biasa pada umumnya?

Menjual Product = Persaingan Harga

Fokus terhadap produk memang tidak salah, namun jika Anda fokus dengan produk saat berpromosi maka ada kemungkinan pesaing Anda juga melakukan hal yang sama.

Akibatnya, bisa terjadi perang harga satu dengan yang lain. Calon pelanggan pun akhirnya fokus pada harga yang ditawarkan dan memilih mereka yang bisa memberi harga termurah. Dan seringkali metode ini berakhir dengan ketidakpuasan pelanggan.

Mengapa? Karena dengan harga yang terlampau murah, tentu ada yang akan dikorbankan dari produk/layanan Anda. Dan memang ini sudah hukum pasar. Dan akibatnya tingkat churn rate pelanggan menjadi tinggi dan mempengaruhi LTV (Live Time Value) yang didapatkan.

Baca juga: Sukses Menghadapi Era Transformasi Digital Dengan Konsep 5C

Apakah akan ada masalah? Jika produk/jasa yang Anda jual masuk dalam kategori fast moving, maka tidak akan ada masalah yang berarti karena Anda bisa dengan mudah mendapatkan pelanggan baru lagi.

Namun akan menjadi masalah besar jika Anda menjual produk/layanan yang bukan kategori fast moving, karena biaya akuisisi Anda akan membengkak dan menggerus keuntungan. Churn rate pelanggan yang tinggi juga akan mempengaruhi hubungan Anda dengan pelanggan tersebut.

Menjual Value = Memberikan Solusi

Karena kemungkinan masalah di atas, maka banyak praktisi yang menyarankan agar pelaku bisnis fokus terhadap value atau nilai plus dari bisnisnya masing-masing. Dengan fokus menjual solusi dan nilai yang unik, maka perang harga bisa dihindari dan perusahaan bisa memberikan pelayanan yang paling maksimal kepada calon pelanggan.

Sebagai contoh kasus, anggaplah Anda adalah seorang pemilik agency digital marketing yang menjual solusi digital marketing. Jika Anda fokus kepada solusi yang Anda berikan, maka mau kompetitor Anda memberikan harga semurah apapun tetap akan ada pelanggan yang datang.

Kok bisa? Jelas. Jika Anda menawarkan solusi yang tidak ditawarkan oleh kompetitor, bagaimana pelanggan bisa membandingkan Anda dengan mereka? Misalnya, Anda memberikan jasa untuk mengembangkan social media dan tidak hanya memberikan desain saja, sedangkan kompetitor hanya menawarkan desain. Harga Anda tentu tidak akan dibandingkan oleh calon pelanggan.

Dan karena Anda menjual solusi, maka pelanggan akan fokus pada solusi dan bukan harga. Ini membuat Anda bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi, namun pelanggan akan tetap mengejar Anda.

Churn rate pun bisa dikurangi, mengingat tidak semua agency bisa memberikan solusi yang sama dengan yang Anda tawarkan. Pelanggan lebih betah dengan Anda, dan otomatis biaya akuisisi bisa ditekan karena meningkatnya LTV yang Anda dapatkan.

Kaitannya dengan Inbound Marketing

Jika Anda sudah pernah mendengar istilah Inbound Marketing, maka Anda pasti juga sering mendengar tentang konten yang menjual value.

Keduanya tentu masih berkaitan, sebab dengan menjual value maka secara tidak langsung Anda menunjukan bagaimana Anda menawarkan solusi dari bisnis kepada pelanggan. Dengan pelanggan mengetahui hal tersebut, maka secara tidak langsung juga mereka akan “tertarik” seperti besi dengan magnet.

Teknik ini sering digunakan dalam strategi SEO (Search Engine Optimization) dan SMD (Social Media Development). Calon pelanggan tentu tidak akan memulai dengan mencari produk terlebih dahulu, tapi memulai dengan mencari tahu jawaban dari permasalahan mereka. Dan jika Anda bisa menjawabnya dengan solusi yang Anda tawarkan, maka kemenangan sudah menjadi milik Anda.

Baca juga: Strategi Inbound Marketing: Cara Baru Menangkap Pelanggan di Era Digital Marketing

Mulai Fokus Pada Solusi, Bukan Pada Produk

Mengingat eksposur bisnis bisa semakin mudah didapat karena dampak dari transformasi digital, Anda harus benar-benar paham apa solusi yang Anda tawarkan dan apa keuntungannya untuk pelanggan. Produk hanyalah bagian dari solusi, dan Anda malah bisa menjual produk yang lebih beragam jika itu memang bagian dari solusi Anda.