fbpx
Mengenal Visualisasi Data Untuk Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik

Mengenal Visualisasi Data Untuk Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik

Data sulit terbaca atau sulit dimengerti? Visualisasi data adalah salah satu cara yang sering digunakan oleh perusahaan untuk mengatasi masalah ini. Sejauh apa efektivitasnya?

Mengembangkan perusahaan sesuai data memanglah wajib, namun bagaimana cara membaca data yang didapatkan adalah masalah tersendiri. Perusahaan boleh saja mengambil banyak data, tapi bagaimana cara agar data tersebut bisa dicerna oleh tim strategis maupun jajaran direksi?

Visualisasi Data = Data Lebih Mudah Dicerna

Data mentah (raw data) biasanya berisi kumpulan angka-angka dengan dimensi yang sulit dibaca oleh orang yang bukan ahlinya, padahal tidak semua orang memiliki latar belakang sebagai seorang data analyst. Data ini tentu berlaku untuk semua bidang, baik finance, digital marketing, laporan produksi, dan sebagainya.

Tidak semua orang betah melihat kumpulan angka-angka dengan penjelasan rumit nan textbook. Kami yakin meskipun Anda memiliki keahlian membaca data, Anda pun juga tidak akan nyaman mempresentasikan data tersebut tanpa melakukan simplifikasi terlebih dahulu.

Karena itu ada visualisasi data. Seperti yang kita ketahui, manusia lebih mudah mencerna gambar dibandingkan tulisan (dimana teori ini yang juga diterapkan ke dalam promosi poster), dan ini juga berlaku dalam data.

Berbagai Jenis Visualisasi Data

Visualisasi data biasanya dilakukan dengan bantuan grafik, tabel, atau infografis. Proses visualisasi juga menghilangkan bagian-bagian yang dirasa tidak perlu dan menampung berbagai data yang memiliki kesinambungan, sehingga data yang ditampilkan tidak terkesan terpecah satu dengan yang lain.

Grafik (Chart)

Grafik merupakan format visualisasi yang paling sering digunakan. Beberapa contoh format grafik yang tersedia adalah grafik lingkaran atau pie chart, garis, atau batang. Ketiganya bisa digunakan di berbagai aplikasi visualisasi, bahkan jika anda menggunakan software pengolah gambar seperti Adobe Illustrator sekalipun.

Pivot Table

Pivot table memberikan kebebasan kepada para pembaca data untuk menarik data yang diinginkan. Format ini cukup praktis, jika Anda memvisualisasikan data lewat aplikasi yang bisa mengupdate datanya secara dinamis sesuai dengan keinginan pengguna (seperti Data Studio atau Microsoft Power BI).

Misalnya jika ada dimensi data ID produk dan Tanggal lalu ada metrik total profit, maka anda bisa menarik data ID Produk – Profit atau Tanggal – Profit tanpa perlu mengganti layout data yang sudah ada.

Bar/Trend

Jika data Anda memiliki kesinambungan dalam satu dimensi, maka format Bar/Trend sangat disarankan. Misalnya jika Anda ingin memvisualisasikan pertumbuhan profit dari waktu ke waktu, atau perbandingan profit yang didapatkan dari jenis barang tertentu.

Infografis

Infografis sering digunakan agar data yang ditampilkan tidak terasa hambar. Apalagi jika Anda harus berurusan dengan banyak data sekaligus, seperti pada laporan tahunan perusahaan. Infografis bisa memberikan gambaran data yang atraktif, namun tidak menghilangkan esensi dari data itu sendiri.

Baca juga: Apa Itu Digitalisasi Serta Perannya di Dunia Bisnis dan Industri

Contoh Aplikasi Visualisasi Data

Anda bisa melakukan visualisasi data secara manual dengan menggunakan aplikasi pengolah gambar. Namun membuat visualisasi secara manual bisa menguras waktu anda, apalagi jika sudah berurusan dengan skala di dalam grafik. Nah, agar pekerjaan Anda bisa semakin mudah, Anda bisa menggunakan berbagai aplikasi yang ada di bawah ini:

Microsoft Excel/Google Sheet

Aplikasi spreadsheet seperti Microsoft Excel dan Google Sheet merupakan aplikasi visualisasi data yang paling sering digunakan di perusahaan manapun. Aplikasi ini bisa dibilang yang paling familiar, meskipun cara penggunaannya yang cukup rumit (apalagi kalau Anda ingin memvisualisasikan data yang kompleks).

Di dalam aplikasi spreadsheet biasanya sudah ada opsi-opsi visualisasi data dasar sampai lanjutan yang datanya diambil dari setiap sheet yang Anda pilih. Definisi dari dimensi dan metrik pun sesimpel memilih antara kolom dan baris.

Microsoft Power BI

Power BI merupakan aplikasi visualisasi data berbasis GUI (Graphic User Interface) besutan Microsoft. Anda hanya perlu menyambungkan sumber data (seperti Google Analytics, Salesforce atau CRM lain, Shopify, dll) dan Power BI akan secara otomatis menarik data dari sana.

Anda bisa memilih format visualisasi, menerapkan filter, sampai mengkombinasikan berbagai sumber data sekaligus dengan mudah.

Tableau

Sama seperti Microsoft Power BI, Tableau juga berfungsi sebagai aplikasi pengolah data yang bisa Anda gunakan sebagai alternatif. Fungsinya tidak jauh berbeda dengan Power BI maupun aplikasi visualisasi data lainnya.

Google Data Studio

Sama seperti Microsoft Power BI dan Tableau, Google Data Studio menawarkan berbagai opsi visualisasi dan manipulasi data secara seamless dengan sumber yang Anda inginkan. Google Data Studio bekerja sempurna dengan Google Marketing Platform lainnya seperti Google Ads maupun Google Analytics.

Baca juga: 5 Tools Google Wajib Untuk Menunjang Strategi Digital Marketing Perusahaan

Google Data Studio tidak memungut biaya berlangganan dan bisa dihubungkan dengan berbagai sumber data pihak ketiga.

Manfaatkan Strategi Visualisasi Data Untuk Keputusan yang Lebih Baik

Strategi visualisasi data yang baik bisa membantu Anda dalam memahami data yang ada, yang kemudian bisa membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Ingat data hanya menjadi berguna jika Anda bisa memahami arti dari data tersebut, lalu mengambil aksi yang sesuai. Percuma saja mengambil berbagai macam data jika tidak tahu bagaimana tindak lanjutnya.

Jika Anda menemui kesulitan dalam pengolahan data, Anda bisa berkonsultasi dengan layanan transformasi digital kami.

Mengintip Berbagai Tantangan Baru di Era Revolusi Industri 4.0

Mengintip Berbagai Tantangan Baru di Era Revolusi Industri 4.0

Ada peluang, tentu ada juga tantangan. Apa saja kira-kira tantangan yang anda hadapi di era revolusi industri keempat yang dipenuhi globalisasi dan teknologi ini? Dan bagaimana cara anda menghadapinya dengan baik?

Revolusi industri 4.0 sudah sering menjadi topik populer yang dibahas di berbagai kegiatan dalam berbagai lini bisnis. Sudah ratusan -atau bahkan ribuan- webinar, talkshow, podcast, dan berbagai konten lain yang membahas fenomena revolusi industri ini.

Dan tentu saja jika kita membahas sebuah era baru, tentu tidak akan lepas dari analisa peluang dan tantangannya. Dalam era revolusi industri 4.0, teknologi (terutama automasi dan internet) disebut-sebut sebagai primadona yang memberikan pengaruh terbesar.

Era Revolusi Industri 4.0 – Era Teknologi dan Kolaborasi

Tentu saja tidak hanya berhenti sampai di internet saja. Dengan terbukanya akses komunikasi ke orang lain, maka ada banyak sekali kesempatan yang bisa didapatkan. Kesempatan untuk berkolaborasi yang lebih mudah dan menyeluruh menjadi salah satu peluang yang naik pesat berkat berkembangan ini.

Anda bisa lihat bagaimana perusahaan, selebriti, bahkan sampai para praktisi bisa saling berkolaborasi dalam memberikan value sesuai tujuannya masing-masing. Menjangkau pelanggan pun jadi terasa lebih mudah.

Namun tentu saja dengan adanya kesempatan baru, artinya akan ada tantangan baru juga!

Beberapa Contoh Tantangan yang Perlu Dihadapi

Ada banyak tantangan yang sebelumnya mungkin tidak pernah Anda temui di era sebelumnya. Yang paling simpel memang tantangan untuk mulai beralih ke produk digital, namun bukan itu yang akan dibahas di dalam artikel ini karena itu tantangan yang sudah sangat umum. Berikut beberapa tantangan baru yang perlu Anda antisipasi:

Hubungan Brand – Customer yang Sudah Lebih dari Sekadar Hubungan

Dengan adanya sosial media dan kemudahan untuk menggelar acara lewat internet, maka hubungan antara brand dengan pelanggan sudah bukan lagi sekadar jual beli. Ada komunikasi lebih yang perlu dibangun guna meningkatkan loyalitas pelanggan Anda.

Pendekatan personal seperti memahami keinginan pelanggan, memberikan nilai tambah, sampai bertukar pendapat menjadi lebih penting dibandingkan hanya sebuah layanan customer service melalui telepon. Sekarang banyak brand yang berusaha untuk menjemput pelanggan mereka terlebih dahulu, dibandingkan menunggu pelanggan yang datang.

Metodenya pun sangat beragam. Mulai dari memberikan konten di sosial media, membuat video, membuat iklan dengan konsep kreatif, mencari testimoni, dan lain-lain. Dan tentu saja karena adanya kebiasaan ini, pelanggan menjadi lebih tertarik dengan brand yang bisa menjalin hubungan lebih dari sekadar jual beli.

Mudahnya Mendapatkan Exposure

Sejak adanya digital marketing, mendapatkan exposure dari calon pelanggan baru bukanlah masalah. Ini tentu membuka peluang sekaligus tantangan, sebab ini juga berlaku untuk kompetitor Anda.

Baca juga: Kejamnya Era Revolusi Industri 4.0, Berikut 5 Bisnis Yang Tumbang Karenanya

Artinya Anda juga harus mempertahankan agar calon pelanggan Anda tidak pindah ke lain hati karena mereka juga bisa melihat promosi yang dilakukan oleh kompetitor. Sekarang Anda harus lebih kreatif dan peduli terhadap apa yang dibutuhkan oleh calon pelanggan guna mempertahankan level exposure Anda.

Bahaya Blunder Sewaktu Waktu

Sudah tidak terhitung berapa banyak perusahaan yang melakukan blunder di social media. Entah karena kesalahan merespon suatu fenomena sosial, atau karena kesalahan dari tim internal mereka sendiri.

Di masa lalu, blunder yang dilakukan oleh brand tidak semudah itu tersebar ke publik. Mengingat minimnya akses untuk berbagai konten ke masyarakat luas. Namun sekarang, kesalahan sedikit saja, bisa membuat brand image Anda turun dan bahkan kejadian tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh kompetitor anda.

Bidang Bisnis yang Semakin Beragam

Berkat adanya internet di era revolusi industri 4.0, kehadiran tech industry di berbagai bidang mulai menjamur dan bahkan mengancam berbagai bisnis yang sudah exist di masa lampau. Contohnya saja kehadiran ride hailing yang mengancam industri transportasi konvensional.

Perkembangan ini sebenarnya bisa ditangkap sebagai peluang juga. Tidak sedikit perusahaan yang berhasil mengembangkan sayapnya karena mereka bisa memadukan perkembangan teknologi, dengan bisnis yang mereka jalani.

Sekarang hanya tinggal masalah sudut pandang Anda saja, apakah anda menganggap ini sebagai peluang atau sebagai ancaman baru?

Kolaborasi yang Semakin Banyak

Sosial media sekali lagi mengambil peran dalam tantangan ini. Berkat sosial media, semua orang bisa menjadi artis (baik itu selebgram maupun artis dunia maya lainnya) yang kekuatan menggiring opininya tidak kalah dengan artis yang dilahirkan dari industri televisi.

Karena itu kesempatan anda untuk berkolaborasi dengan berbagai orang yang memiliki ribuan pengikut juga semakin luas. Sekarang anda tidak lagi terbatas pada artis dari kalangan televisi (dimana harga kontraknya bisa miliaran), tapi bisa juga dengan artis mikro dari sosial media, yang dimana dampaknya juga tidak bisa dianggap remeh.

Baca juga: Apa Itu Digitalisasi Serta Perannya di Dunia Bisnis dan Industri

Ubah Tantangan Menjadi Peluang

Mengacuhkan tantangan dan menjadi keras kepala tentu bukan solusi yang bijak di situasi sekarang ini. Mengingat pelanggan bisa mengganti preferensi mereka dengan mudah (bahkan jauh lebih mudah dibandingkan 1 dekade lalu). Jika bukan Anda yang melakukannya, maka kompetitor lah yang akan melakukan.

Karena itu, penting bagi anda untuk jeli melihat tantangan yang ada lalu mengubahnya menjadi peluang baru yang bisa menumbuhkan perusahaan anda lebih jauh.

Sasana digital memberikan solusi untuk Anda yang tengah berjuang dalam membangun bisnis di era revolusi industri 4.0. Temukan solusinya di halaman strategi marketing di era digital kami.

Metode Penerapan Lean Management dengan PDCA (Plan Do Control Act)

Metode Penerapan Lean Management dengan PDCA (Plan Do Check Act)

Lean management bukan proses satu kali jadi dan harus dilakukan secara konsisten selama perusahaan berdiri. Cari tahu bagaimana metode PDCA dapat membantu implementasi Lean management Anda!

Kompleksitas industri bukanlah masalah yang mudah untuk diselesaikan. Karena itu banyak sekali metode manajemen dan improvisasi yang digagas oleh berbagai praktisi bisnis, dan salah satunya adalah metode Lean management yang berfokus pada pengurangan pemborosan dan peningkatan value.

Tapi tidak bisa dipungkiri, tidak ada metode yang bergaransi 100% sukses. Begitupun juga dengan Lean management, dengan anda mengimplementasikannya bukan berarti perusahaan anda akan langsung lebih baik begitu saja. Ada langkah dan metodologi yang perlu anda lakukan terlebih dahulu dan salah satunya adalah PDCA.

Apa Itu PDCA?

PDCA merupakan salah satu metode improvisasi dalam siklus penerapan Lean management. Diketahui ada 70-80% perusahaan yang tidak mendapatkan manfaat yang terukur dari proyek Lean mereka karena tidak menggunakan metode PDCA ini.

PDCA sendiri memiliki kepanjangan Plan, Do, Check, dan Action. Keempatnya saling berkaitan dan membantu Anda dalam penerapan Lean management di dalam industri.

Plan

Plan artinya merencanakan. Di dalam Lean management, Anda harus mengetahui value apa yang dikejar dan pemborosan apa yang akan dihilangkan di dalam perusahaan Anda. Dan di tahap inilah, anda perlu menentukan terlebih dahulu 2 hal tersebut.

Ketahui terlebih dahulu masalah-masalah yang biasa dihadapi perusahaan, seperti:

  • Proses apa yang biasa dilalui sebelum produk bisa diproduksi?
  • Sumber daya apa saja yang dimiliki?
  • Berapa nilai jual yang seharusnya ditentukan agar pasar bisa menerima produk atau jasa?

Jawab pertanyaan tadi dan definisikan bagaimana langkah-langkah yang dibutuhkan untuk melakukan improvisasi. Cari tahu titik kuat dan titik lemah yang ada di dalam perusahaan sebelum menentukan langkah.

Baca juga: Mencegah Pemborosan Dengan Penerapan Lean Manufacturing

Bergantung dari skala perusahaan, proses dari plan ini bisa panjang atau singkat. Di beberapa kasus, bisa jadi proses ini yang membutuhkan sumber daya paling banyak dibandingkan dengan yang lain.

Do

Rencana yang dibuat hanya akan berguna jika ada aksi yang dihasilkan. Perusahaan biasanya jago membuat rencana, tapi setelah itu tidak dikerjakan sama sekali. Artinya, sama saja bohong.

Tetap ingat bahwa Lean berfokus pada pengurangan pemborosan! Jangan sampai proses do yang anda lakukan malah semakin memperparah kondisi yang sudah ada. Inilah mengapa anda perlu membuat rencana terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Terakhir, bisa jadi ada masalah yang tak terduga di tengah proses eksekusi rencana, sebaik apapun Anda merencanakannya. Anda boleh melakukan penyesuaian, tetapi jangan ganti tujuan akhir anda.

Check

Setelah anda melakukan hal yang sudah anda rencanakan, sekarang waktunya untuk mengecek apakah hal yang anda lakukan sudah menghasilkan tujuan yang anda inginkan. 

Laporkan setiap detil aktivitas yang dilakukan sebelumnya, dan tentu saja berikut dengan hasil yang didapatkan. Cari tahu apakah hasil-hasil tadi sesuai dengan apa yang anda rencanakan di tahap pertama, atau ada beberapa hasil yang meleset.

Di tahap inilah seharusnya Anda mengetahui, apakah Lean yang anda lakukan memberikan dampak yang terukur atau tidak. Jika jawabannya adalah tidak, maka cek lagi plan Anda apakah diagnosis Anda di awal sudah tepat atau mungkin Anda melewatkan sesuatu.

Act

Waktunya mengimprovisasi hasil pengecekan yang anda temukan di tahap sebelumnya. Dalam 5 prinsip Lean management, prinsip kelima adalah improvisasi dan optimasi dan tentunya tahap ini sangatlah cocok untuk konsep tersebut.

Baca juga: Mengenal Konsep Lean Management Dalam Industri Manufaktur

Jika anda sudah mendapatkan hasil yang diinginkan, kembali lagi ke tahap pertama dan cari tahu lagi bagian mana yang masih menghasilkan pemborosan, atau apakah value dari produk/jasa anda masih bisa dimaksimalkan lagi.

PDCA Membantu Efektivitas Lean Management

Selamat, Anda sudah berhasil melakukan improvisasi pertama dalam proyek Lean pertama Anda. Lakukan proses ini secara berulang sesuai dengan koridor proyek Lean Anda, maka niscaya efisiensi dan produktivitas perusahaan bisa terus meningkat.

Dan perlu diingat bahwa Lean tidak hanya bisa diimplementasikan di proyek skala besar, tapi juga bisa dimulai dari manajemen dan administratif terlebih dahulu. Selalu mulai dari hal kecil, sebelum menuju ke hal yang lebih besar.

Sasana Digital juga menghadirkan tim expert dari Lean management. Anda bisa berdiskusi dan mendapatkan informasi seputar dunia Lean dan industri 4.0 langsung dari ahlinya. Temukan lebih lanjut di webinar Lean dan Industri 4.0 kami.

Webinar Lean dan Industri 4.0

Mengenal Konsep Lean Management Dalam Industri Manufaktur

Mengenal Konsep Lean Management Dalam Industri Manufaktur

Lean management berfokus pada manajemen aktivitas, yaitu dengan mengeliminasi aktivitas yang tidak memberikan dampak langsung dan memprioritaskan yang sebaliknya. Bagaimana cara kerja dan dampaknya?

Lean management sebenarnya sudah diimplementasikan sejak jaman dulu. Toyota merupakan salah satu pionir perusahaan yang menerapkan sistem Lean management pada proses manufakturnya. Berkat Lean management, Toyota diketahui berhasil menekan biaya produksi serta mengurangi pemborosan yang dihasilkan dari proses produksinya.

Sekilas Tentang Lean Management

Pada dasarnya, Lean management menitikberatkan pada menghilangkan pemborosan dan mengurangi proses yang tidak perlu. Faktanya, Lean management tidak hanya bisa diterapkan pada industri skala multinasional saja. Tapi juga bisa diimplementasikan pada organisasi skala kecil, bahkan untuk startup dan UMKM.

Ketika dilakukan dengan baik dan terencana, maka Lean management diketahui bisa meningkatkan efisiensi, masa siklus, produktivitas, dan pemborosan yang nantinya bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global.

5 Prinsip Utama Dalam Lean Management

Lean management berpegang pada 5 prinsip utama. Kelimanya saling berhubungan dan tidak bisa diambil sendiri-sendiri:

Fokus Terhadap Value

Selalu berorientasi pada hal yang esensial untuk pelanggan Anda. Hanya produksi barang atau jasa yang memberikan dampak pada pelanggan, dan tinggalkan yang lain.

Beberapa pertanyaan yang bisa membantu Anda dalam menemukan value dari produk Anda:

  • Bagaimana timeline dari produksi dan distribusi yang dibutuhkan?
  • Berapa harga yang paling cocok?
  • Bagaimana persyaratan dan kondisi yang perlu dipenuhi?

Dengan berfokus pada value, Anda bisa mulai mengurangi proses yang tidak perlu dan kemudian menemukan hal-hal esensial yang perlu Anda lakukan.

Menciptakan Value Stream dan Mengeliminasi Sisanya

Setelah Anda menemukan value dari produk atau jasa Anda, sekarang waktunya untuk menciptakan stream produksi untuk mengejar value tersebut (Value Stream). Dalam Lean management, proses ini cukup vital. Sebab disinilah Anda akan menemukan proses-proses yang seharusnya tidak perlu dilakukan dan membuang waktu.

Value stream yang dimaksud tentu tidak hanya terbatas pada kegiatan produksi itu sendiri. Tapi juga hubungannya dengan divisi lain, seperti sumber daya manusia, desain, pengadaan, atau layanan pelanggan (customer service).

Salah satu cara yang biasa dilakukan adalah dengan membuat gambaran singkat tentang bagaimana produksi berlangsung secara garis besar. Di poin ini juga Anda akan semakin memahami bagaimana operasional bisnis Anda yang sebenarnya.

Menciptakan Flow Tanpa Hambatan

Selanjutnya Anda perlu meyakinkan bahwa value stream tadi berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan.

LEI (Lean Enterprise Institute – Institute Lean untuk Bisnis) menganjurkan para pelaku Lean management untuk memastikan bahwa proses berbasis value yang tadi, bergerak dalam alur yang ketat sehingga produk atau jasa bisa dinikmati oleh pelanggan dengan mulus.

Dapatkan informasi lebih lanjut seputar Lean management di era revolusi industri 4.0 

Dan memang ini bukan hal mudah, karena bisa jadi Anda harus mengecek proses yang terjadi di luar perusahaan (seperti dengan partner, misalnya). Namun jika Anda berhasil melakukannya, maka tingkat produktivitas bisa meningkat pesat (bahkan bisa lebih dari 50% dibandingkan sebelumnya).

Menggunakan Sistem “Pull”

Tidak menimbun inventori, namun tetap berfokus dalam pemenuhan kebutuhan pelanggan terkait produk dan jasa adalah poin penting berikutnya yang perlu anda lakukan.

Sistem “pull” memiliki arti bahwa pelanggan bisa menarik (pull) produk dan jasa ketika mereka membutuhkannya. Ini artinya, perusahaan hanya memproduksi produk dan jasa dalam jumlah yang dibutuhkan di waktu yang tepat.

Goal dari konsep ini adalah untuk menghilangkan penimbunan sumber daya yang tidak perlu. Sehingga mengurangi biaya perawatan mahal yang berdampak pada kenaikan harga jual.

Improvisasi dan Pengembangan

Tahap terakhir adalah bagaimana caranya agar Anda bisa mengembangkan kembali keempat konsep yang sudah Anda jalankan sebelumnya. Tetap terus mengulang proses dan menghilangkan pemborosan dan kegiatan yang tidak perlu di masa mendatang.

Baca juga:

Perlu diingat bahwa Lean bukanlah proses yang sekali jadi lalu tinggal. Anda tetap harus mengulanginya lagi dan lagi, mengingat proses yang tidak efisien dan pemborosan yang tidak perlu bisa muncul di mana saja.

Tingkatkan Produktivitas dan Efisiensi dengan Penerapan Lean

Jika Anda berhasil memahami dan mengimplementasikan prinsip Lean dengan benar, peningkatan produktivitas dan efisiensi akan didapat. Telah banyak perusahaan yang mampu meningkatkan produktivitasnya secara signifikan, 40 hingga 60 persen, dengan Lean. Hebatnya, pencapaian tersebut didapat dalam periode waktu yang relatif singkat dan invenstasi minimum.

Untuk menghindari kegagalan Lean, perusahaan harus bisa mengaplikasikan Lean di benak manajemen sebelum bisa mengaplikasikannya di tempat-tempat lain.

Sasana Digital hadir bersama Lean Manufacturing 4.0 Expert untuk berdiskusi mengenai potensi dan peluang Lean dalam pertumbuhan perusahaan dengan menghilangkan pemborosan tersebut di Era Industri 4.0 saat ini. Klik gambar di bawah untuk informasi lebih lanjut:

Lean Management Webinar

Mengenal 4 Scope Data Utama di Dalam Google Analytics

Mengenal 4 Scope Data Utama di Dalam Google Analytics

Google Analytics mengolah data berdasarkan scope tertentu, bagaimana prosesnya dan cara tepat membacanya?

Jika anda adalah seorang digital marketing yang aktif mencari dan menganalisa data dari pengguna anda, maka anda tentu tidak asing dengan aplikasi Google Analytics. Dengan Google Analytics, anda bisa mendapatkan ribuan data yang bernilai tentang aktivitas dari pengunjung anda di dalam website.

Hanya saja karena ke-kompleks-an data yang ada di Google Analytics, aplikasi pun membuat sistem kategorisasi data yang kompleks juga. Terkadang hal ini tidak dipelajari oleh digital marketer, sehingga data yang mereka ambil terkadang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Scope Data Google Analytics

Google Analytics bekerja dengan struktur scope yang ditentukan. Ini artinya ada cakupan tertentu dari setiap data yang diambil, mengingat kompleksnya data yang berlalu lalang di internet. Google Analytics sendiri membagi scope datanya menjadi 4 scope, dimana setiap scope memiliki tampungan data masing-masing.

Scope ini berfungsi untuk mendefinisikan data-data tadi agar tidak saling tumpang tindih, dan bisa digunakan sebagai identifikasi pengguna tanpa melanggar privasi mereka. Untuk lebih jelasnya, berikut 4 jenis scope yang ada di dalam Google Analytics:

User Scope

Data ini diambil untuk identifikasi user secara individu. Berguna untuk membedakan satu pengunjung dengan pengunjung lainnya, serta berguna untuk menentukan jumlah pengguna yang masuk ke dalam situs.

Session Scope

Session scope berisi data-data dari session yang dimulai oleh user. Setiap user selalu akan memulai sesi tertentu di dalam website, dan Google Analytics membatasi sesi tersebut dengan waktu (maks 30 menit atau sesuai pengaturan pengguna) dan tindakan (jika user melakukan exit/close dari situs).

User bisa memiliki lebih dari satu sesi, bergantung dari lamanya dia mengunjungi situs.

Hit Scope

Scope ini berisi aktivitas dari setiap session yang terjadi. Setiap sesi selalu mengandung beberapa aktivitas yang dilakukan, misalnya mengunjungi halaman tertentu atau mengklik tombol tertentu.

Baca Juga: Fitur Baru Google Analytics 4 (GA4), Apa Saja Kelebihannya?

Product Scope (special)

Terakhir adalah product scope yang dibuat special untuk e-commerce. Setiap interaksi hit yang terjadi selalu ada informasi product yang ikut serta. Misalnya ketika user mengklik “buy” atau “Checkout”, maka data produk yang masuk ke dalam aktivitas itu akan direkam di laporan product scope.

Scope Dimensi vs Scope Metrik

Dari keempat scope diatas, mereka akan dibagi lagi ke dalam masing-masing dimensi dan metrik. Misalnya untuk dimensi Landing Page (halaman yang pertama kali diakses oleh user saat memulai session) cocok jika disandingkan dengan metrik Bounce Rate (berapa sesi yang tidak ada interaksinya).

Perlu diketahui bahwa scope bekerja secara hierarki mulai dari user, session, hit, dan product secara berurutan. Karena adanya hierarki ini, maka anda tidak bisa memasangkan data tanpa mempertimbangkan scope-nya.

Dimensi dan metrik hanya akan bekerja sesuai ekspektasi dengan sempurna jika berada di scope yang sama. Jika ada perbedaan scope, maka akan ada 2 konsekuensi:

  • Tidak ada data yang ditampilkan alias error
  • Data yang ditampilkan tidak sesuai ekspektasi

Kesalahan Utama Digital Marketer Pemula: Salah Kombinasi Scope

Misalnya ketika anda menggunakan dimensi yang dihitung dari scope session, seperti landing page atau source/medium, lalu anda kombinasikan dengan metrik yang tidak seharusnya seperti Total Event yang merupakan Hit Scope. Maka data yang tampil tidak akan sesuai dengan keinginan anda. Resikonya anda bisa mendapatkan informasi yang kurang akurat.

Jadi, pelajari scope masing-masing dari setiap data yang ada. Terutama jika anda adalah pengguna Data Studio, maka anda wajib memahami bagaimana data di Google Analytics diproses. Jika tidak, anda bisa menemui masalah dimana data yang anda inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Masih bingung cara menggunakan Google Analytics yang paling tepat? Temukan materinya di dalam kursus digital marketing kami, dan mulai belajar digital marketing dengan studi kasus nyata.

Sedang Mencari Kursus Google Ads Ketahui Poin Penting yang Perlu Dipelajari

Sedang Mencari Kursus Google Ads? Ketahui Poin Penting yang Perlu Dipelajari

Ada pepatah bahwa siapa yang menguasai medan perang, maka ia yang menang. Pahami terlebih dahulu poin Google Ads sebelum anda terjun ke dalamnya.

Bagaimana anda bisa menang perang kalau anda tidak paham medannya? Pertanyaan ini juga pas jika ditujukan ke anda yang berencana mengambil kursus dan terjun ke dunia Google Ads. Apa saja kira-kira hal penting yang perlu anda pelajari ketika mengikuti Google Ads, agar anda bisa lebih bersaing di lapangan nanti?

Google Ads sendiri memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Bahkan tidak sedikit juga agen-agen Google Ads yang faktanya tidak paham bagaimana platform tersebut bekerja, yang pada akhirnya berimbas kepada klien mereka yang hasilnya kurang maksimal.

Karena itu, agar anda tidak terjebak dalam kebingungan, pastikan anda sudah tahu poin poin penting yang perlu dipelajari.

Jenis dan Format Google Ads

Ini adalah hal pertama yang harus pahami. Setiap jenis dan format dari Google Ads memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda pula. Misalnya, search ads yang tampil di hasil pencarian dan memiliki opsi targeting berdasarkan keywords.

Setiap topik bisnis dan tujuan beriklannya, tentu harus sesuai dengan jenis dan format yang dipilih. Tentunya agar rasio antara biaya dengan hasilnya bisa lebih maksimal.

Cara Kerja Google Ads

Terutama untuk anda yang masih sangat baru dan pertama kali menggunakan Google Ads, anda wajib paham bagaimana cara Google Ads memberikan iklan kepada pengguna. Mulai dari cara pembuatan, sistem penargetan, dan cara menghitung biayanya.

Dengan begitu anda bisa membuat perencanaan iklan yang lebih tepat sasaran, yang tentunya kembali lagi agar hasil yang anda dapatkan bisa lebih maksimal.

Pelajari konsep-konsep yang vital bagi iklan seperti quality score pada search ads atau konsep retargeting pada display ads.

Metrik Penting Google Ads

Kemudian anda juga harus mempelajari metrik-metrik apa yang perlu anda perhatikan sesuai dengan goal iklan anda.Seperti yang sudah kami bahas sebelumnya, digital marketing memiliki konsep user journey atau touch point. Ini artinya, digital marketing bisa merekam orang-orang yang sudah berada di stage tertentu. Misalnya baru sekali mengunjungi website anda atau mungkin yang sudah melakukan transaksi bersama anda.

Baca Juga: 5 Tools Google Wajib Untuk Menunjang Strategi Digital Marketing Perusahaan

Dengan begitu anda bisa melakukan evaluasi terhadap metrik yang sesuai dengan stage dari user journey anda. Misalnya metrik impresi ketika anda sedang mengiklankan brand anda dengan goal awareness, yang memang tujuannya untuk menjangkau orang sebanyak-banyaknya.

Goal ini tentu juga berdampak pada pemilihan strategi pengeluaran budget yang nantinya anda pilih, dan memastikan bahwa strategi anda cocok dengan goal yang anda targetkan.

Evaluasi dan Optimasi

Selanjutnya yang perlu anda tahu adalah, bagaimana cara melakukan evaluasi dan optimasinya. Sebab ads yang anda buat tentu tidak mungkin bisa langsung sempurna, dan cara menyempurnakannya tidak bisa asal dengan pakai feeling saja.

Anda harus banyak menanyakan metrik yang digunakan dan data apa yang dipakai sebagai dasar untuk pertimbangan optimasi. Misalnya, menggunakan metrik CTR sebagai pertimbangan relevansi antara keyword dengan iklan yang tampil.

Prospek Karir

Terakhir, khusus bagi anda yang belajar Google Ads untuk mendapatkan karir yang lebih baik, tanyakan juga bagaimana prospek karir dari seorang Google Ads Strategist. Secara garis besar memang tidak ada bedanya dengan posisi strategis lain, yaitu junior, senior, dan terakhir head. Tapi anda juga bisa bertanya yang lebih luas, seperti kesempatan untuk menjadi freelance atau membuka bisnis konsultan sendiri.

Google Ads Hanyalah Salah Satu Dari Sekian Banyaknya Jalan

Jangan kunci diri anda di dalam satu channel marketing saja! Dunia digital marketing sangatlah luas, dan dari berbagai pilihan itu anda juga bisa mengkombinasikannya agar menjadi lebih efektif.

Baca Juga: Ikut Training Google Ads, Apa Saja Hal Penting yang Perlu Dipelajari?

Karena itu, anda bisa mengikuti berbagai pilihan ragam kursus digital marketing yang ada di Sasana Digital. Dapatkan berbagai informasi dan pelajaran berdasarkan studi kasus nyata!