fbpx
6 Kegagalan Utama Industri Manufaktur, Bagaimana Cara Mencegahnya

6 Kegagalan Utama Industri Manufaktur, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Di dalam dunia manufaktur, ada 6 jenis kegagalan utama yang mengancam eksistensi keberadaan industri. Kenali dan cari tahu bagaimana cara mencegah dan menghadapi keenamnya.

Industri manufaktur memiliki kompleksitas yang cukup rumit, dan tentunya tidak bisa diselesaikan oleh sembarang orang dengan sembarang metode. Karena itu potensi kerugian yang mengancam juga cukup banyak dan perlu diberi perhatian khusus.

Secara garis besar, ada 6 jenis kegagalan utama yang menyebabkan kerugian dalam industri manufaktur. Bila tidak dicegah atau ditangani dengan baik, maka keenam masalah ini bisa menimbulkan masalah serius dan bisa menghancurkan bisnis dalam jangka panjang.

Waktu Henti Mesin yang Direncanakan (Planned Downtime)

Mau karena maintenance atau apapun, mesin yang berhenti dan tidak bisa berproduksi adalah suatu potensi kerugian yang cukup besar dalam industri manufaktur.

Anggap saja Anda bisa memproduksi 10 barang dalam waktu 1 jam, dan Anda memiliki 10 mesin di dalam industri Anda. Jika kesepuluh mesin tersebut harus berhenti beroperasi karena penjadwalan perawatan selama 2 jam, maka Anda kehilangan potensi produksi sebesar 200 barang!

Dan jika jadwalnya dilakukan setiap minggu sekali, maka total kerugian Anda mencapai 800 barang setiap bulannya.

Waktu Henti Mesin yang Tidak Direncanakan (Unplanned Downtime)

Jika yang direncanakan saja menyebabkan kerugian, apalagi yang tidak direncanakan. Kegagalan operasional apapun yang menyebabkan berhentinya proses produksi tentu akan mengakibatkan kerugian bagi industri.

Pada umumnya kasus unplanned downtime bisa diatasi dengan melakukan penjadwalan maintenance berkala. Namun, tanpa proses pemeriksaan yang ketat dan super teliti, selalu akan ada kemungkinan teknisi lalai memeriksa satu bagian di dalam mesin. Inilah yang kemudian bisa mengakibatkan mesin berhenti beroperasi secara tiba-tiba.

Karena itu, kehadiran perangkat IoT yang bisa mendeteksi dan mempelajari pola kerusakan mesin sangat diperlukan.

Kegagalan Mesin Temporer (Minor Stop)

Terkadang mesin bisa terganggu hanya karena kesalahan kecil. Misalnya ada komponen yang terlepas tiba-tiba atau karena akibat dari kelalaian proses maintenance. Berapapun durasi kegagalan mesin, tetap saja akan ada kerugian yang ditimbulkan.

Selain itu biasanya teknisi akan menemui kesulitan untuk mengetahui kesalahan dalam mesin dengan cepat. Bisa saja teknisi harus merombak total mesin meskipun ternyata kesalahannya sangat sepele.

Kembali lagi, masalah ini bisa diatasi dengan software ERP system yang bisa mencari tahu dan menginformasikan teknisi perihal potensi kegagalan operasional mesin setiap waktunya. Tanpa perlu dijadwalkan.

Baca juga: Sukses Menghadapi Era Transformasi Digital Dengan Konsep 5C

Kerugian Karena Penurunan Kecepatan (Speed Loss)

Efisiensi operasional bisa saja menurun karena beberapa alasan, terutama untuk industri yang masih mengandalkan tenaga konvensional. Kecepatan nyata bisa lebih rendah dari kecepatan yang diprediksi sebelumnya.

Software ERP kembali bisa menawarkan pencegahan dan solusi dari masalah ini. Seperti yang sudah kita ketahui, ERP bisa memprediksi kemampuan mesin dan menghitung volume produksi secara real time. Apabila ada kesalahan yang terdeteksi, maka ERP akan memberitahukan seluruh divisi terkait untuk segera melakukan pembenahan.

Rugi Pengerjaan Ulang (Rework Loss)

Terkadang mesin pun bisa melakukan kesalahan, namun masih bisa diperbaiki dengan cara pengerjaan ulang (rework).

Proses pengerjaan ulang tentu memakan sumber daya yang ada. Sumber daya baik waktu maupun bahan baku yang seharusnya bisa digunakan untuk memproduksi produk lain, malah harus dipakai untuk mengerjakan produk yang seharusnya sudah selesai.

Rugi Barang Cacat (Reject Loss)

Dari kerusakan sebelumnya, tentu akan ada kemungkinan barang tidak bisa diperbaiki sama sekali dan tidak bisa dilepas ke pasar. Ini merupakan salah satu kerugian total dari industri yang bisa berdampak pada cashflow, karena bahan baku yang sudah dibeli tidak bisa dikonversi menjadi pemasukan.

Baca juga: Mengenal Konsep Lean Management Dalam Industri Manufaktur

IoT (Internet Of Things), Solusi dari 6 Masalah Utama Industri Manufaktur

Ternyata hanya menggunakan ERP saja tidak cukup! Penggunaan ERP tanpa diikuti dengan mesin yang mendukung IoT juga akan mengurangi efektivitas ERP tersebut. Sebab data yang didapatkan oleh ERP bisa saja sudah kadaluarsa.

IoT bisa memberikan update data secara otomatis dan mensinergikan data-data yang dimiliki oleh perusahaan secara real time. Jadi mengapa Anda tidak segera bermigrasi ke teknologi smart industry dan meninggalkan konsep industri yang lama?

Hubungi solusi dan konsultasi transformasi digital kami untuk informasi bantuan implementasi transformasi digital pada industri manufaktur yang kami sediakan.

Comments are closed.